Senin, 04 Juli 2011

Nafsu Terpendam Biarawati

Sr.Florentine yang berusia 39 tahun adalah seorang suster dengan badan sintal dan sensual. Karena tubuhnya cukup pendek (155 cm) maka ia kelihatan sedikit gemuk. Sikapnya yang agak genit ditambah lagi dengan ukuran pingulnya yang aduhai dapat membuat para pria yang menghadapinya salah tingkah. apalagi payudaranya yang berukuran 36B, tampak indah membusung di balik baju putihnya, membuat jantung para pria berdebar keras saat menatapnya. Jadi meskipun kulitnya berwarna coklat gelap, hal itu tidak mengurangi sensualitasnya. Cerita seru akan menyajikan ceritaseru ini untuk anda.
Semasa kuliahnya Sr.Florentine pernah menonton film biru dan membaca beberapa buku porno. Pada masa awalnya sebagai suster, Sr.Florentine pernah satu kali melakukan hubungan seksual dengan murid di sekolah tempatnya mengajar. Hilangnya keperawanan itu begitu membekas sehingga dia kerap merindukan saat-saat menggairahkan itu. Sayang sekali muridnya itu telah pindah jauh ke luar kota. Sebagai seorang suster yang tidak boleh menikah dan tidak diperbolehkan melakukan hubungan seksual, perbuatan Sr.Florentine itu tentu saja merupakan pelanggaran yang sangat berat.
Tapi selain Sr.Florentine dan muridnya itu, tak seorangpun tahu mengenai aib itu. Untunglah Sr.Florentine tidak sampai hamil karenanya. "Ah.... toh cuma sekali saja, yang penting sekarang aku tidak pernah melakukannya lagi", begitu pikir Sr.Florentine tatkala ingatan tentang hubungan seks pertamanya itu terbayang kembali. Sikap Sr.Florentine yang seolah menantang dan menggoda para pria yang bertemu dengannya itu sebenarnya dimaksudkan untuk mengakrabkan diri, agar tidak dianggap sebagai suster yang angkuh dan sombong.
Di saat- saat yang memerlukan pertimbangan dan pengambilan keputusan yang sulit, Sr.Florentine tetap menjaga sikap tegasnya sebagai seorang suster. Namun sikap Sr.Florentine itu ditangkap lain oleh 4 orang pemuda yaitu Arnold, Wiro, Roy dan Tono. Keempat pemuda itu sepakat untuk menculik dan memperkosa Sr.Florentine. Tempat untuk itu sudah dipersiapkan, sebuah vila di tengah-tengah kebun teh yang terpencil. Jarak dari villa tersebut ke desa terdekat kira-kira 6 kilometer. Sebuah tempat ideal untuk bermain seks, apalagi hawa daerah itu yang cukup dingin dianggap cocok untuk berhangat-hangat dengan tubuh Sr.Florentine yang sintal itu. Di pagi hari yang masih dingin, Sr.Florentine berjalan dari gedung biara ke gedung sekolah tempatnya mengajar, yang letaknya tidak terlalu jauh. Karena hari masih sangat pagi, jalanan sepi.
Hal ini dimanfaatkan oleh keempat pemuda itu yang sudah mengamati kebiasaan Sr.Florentine selama beberapa waktu. Tiba-tiba sebuah mobil dengan pintu tengah model geser berhenti mendadak, memepet Sr.Florentine. Sr.Florentine yang terkejut tak sempat bereaksi apa-apa saat Arnold dan Wiro melompat turun dan menyeretnya masuk mobil. Dalam mobil, Roy telah menyiapkan chloroform yang dibekapkan ke mulut Sr.Florentine. Tanpa sempat menjerit, Sr.Florentine langsung pingsan terbius chloroform. Tono yang mengemudikan mobil itu langsung tancap gas ke villa yang telah mereka persiapkan.
Sesampai di villa mereka mendudukkan Sr.Florentine di kursi rendah dan mengikat tangannya di belakang sandaran kursi itu. Payudara di dada Sr.Florentine yang naik turun seiring napasnya itu makin membuat mereka bernafsu. Mereka telah sepakat membagi-bagi 'jatah'. Jatah pertama untuk urusan 'karaoke' atau oral seks adalah Roy. Wiro kebagian penetrasi vagina pertama, sedangkan Arnold yang merupakan pemimpin di antara mereka bertugas melucuti pakaian Sr.Florentine. Ia juga mendapat kehormatan sebagai yang pertama menikmati dan menjilati payudara serta vagina Sr.Florentine. Tono sendiri kebagian jatah menggarap mulut dan leher Sr.Florentine. Pukul 07:22 Sr.Florentine tersadar dari pingsannya.
Perlahan-lahan ingatannya pulih dari pengaruh chloroform, begitu pula tenaganya berangsur-angsur kembali seperti sediakala. Menyadari dirinya diikat, Sr.Florentine meronta, tapi ikatan itu terlalu kuat. Sia-sialah ia meronta. Sr.Florentine melihat ke sekeliling ruangan tempat ia diikat. Ia ditempatkan di ruangan berukuran besar. Pintu ruangan itu tertutup dan terletak agak jauh di sisi kirinya. Di tengah ruangan, terhampar kasur tebal yang juga berukuran besar. Ia diikat di sebuah kursi rendah. Kira-kira 4 meter di depannya ada sebuah kursi lain yang jauh lebih tinggi daripada kursi tempatnya diikat. Ia heran karena belum pernah melihat kursi setinggi itu dan juga tidak tahu apa gunanya. Pukul 07:24 Sr.Florentine tersentak terkejut karena tiba-tiba pintu ruangan itu membuka dan masuklah 4 orang pemuda berbadan kekar.
Keempat pemuda itu dikenalnya, karena beberapa kali pernah bertemu. Yang lebih membuat Sr.Florentine terkejut lagi adalah karena keempat pemuda itu dalam keadaan telanjang bulat. Penis mereka mengacung tanda birahi. Semuanya berukuran besar. Paling panjang adalah milik Arnold, panjangnya kira- kira 25 cm dan berdiameter 8 cm. Namun penis Wiro, Roy dan Tono pun panjang. Rata-rata panjangnya mencapai 20-an cm dan diameternya 5 cm. Keempat pemuda itu menyeringai nakal. "Halo, Suster....menggairahkan sekali bukan, suasana pagi ini ?" begitu sapa Arnold sambil terus menyeringai. "MAU APA KALIAN ? LEPASKAN SAYA !!" Sr.Florentine masih mencoba meronta. "Hmmm..... jangan pura-pura alim deh, Suster tentu tahu apa yang kami mau. Suster akan kami ajari beberapa permainan menyenangkan yang takkan pernah Suster lupakan" giliran Wiro bersuara. Keempat pemuda itu terbahak-bahak mendengar perkataan Wiro.
Jantung Sr.Florentine berdebar keras. Ia sadar dirinya akan jadi 'santapan' keempat pemuda telanjang itu. Ia sadar, dirinya takkan mampu melawan mereka. "Jangankan melawan keempatnya, melawan seorang saja aku belum tentu mampu", demikian pikirnya kalut. "Arnold, LEPASKAN SAYA !! KALAU TIDAK SAYA AKAN BERTERIAK-TERIAK SAMPAI TETANGGA MENDENGARNYA !!" "Ha...ha...ha... silakan berteriak, kita berada di tengah kebun teh yang sepi. Jarak terdekat ke rumah orang kira-kira 6 kilometer !" Arnold berkata sambil tertawa. Pukul 07:26 Sr.Florentine makin panik mendengar hal itu. Ketakutannya kian terbukti. Dirinya akan diperkosa beramai-ramai oleh keempat pemuda itu. Ia terus meronta-ronta hendak melepaskan diri. "Lebih baik melawan daripada menyerah sama sekali. Jika aku diperkosa, setidak- tidaknya aku sudah melawan", begitu pikir Sr.Florentine.
"Ha...ha...ha... rontaanmu sungguh menggairahkan, Suster ! Ayo, teman-teman, kita mulai !!" seru Arnold. Mereka menarik kursi tinggi yang tadi dilihat Sr.Florentine, sehingga tepat berada di hadapan Sr.Florentine. Kursi itu memang dibuat untuk tujuan khusus, yaitu sebagai sarana 'karaoke paksa' bagi korban-korban keempat pemuda itu. Roy duduk di atas kursi tinggi itu dan memegang rambut dan kepala Sr.Florentine yang masih terbungkus slayer (kerudung penutup kepala bagi suster-suster) hingga tidak dapat bergerak. "Ayo kulum punya saya, Suster ! Cicipi sarapanmu pagi ini: kontol split, variasi seksual dari banana spilit, ha...ha...ha..." sambil berkata begitu Roy menarik kepala Sr.Florentine. Ia memajukan penisnya mendekati muka Sr.Florentine sambil menjepit hidung Sr.Florentine untuk membuat Sr.Florentine membuka mulutnya. Ketika Sr.Florentine kehabisan nafas dan membuka mulutnya untuk menghirup udara, Roy mendorong penisnya ke dalam mulut Sr.Florentine.
Laki-laki itu berhenti begitu bibir Sr.Florentine telah melingkar di penisnya dan mulai mendorong dan menarik kepala Sr.Florentine. Kepala Sr.Florentine bergerak maju dan mundur terus menerus. Saat kepala penis itu masuk ke tenggorokannya Sr.Florentine tersedak, tapi Roy tetap mendorong hingga kepala penis itu masuk lebih dalam di tenggorokan Sr.Florentine. Sr.Florentine dipegangi agar tak bergerak dengan penis yang terbenam hingga tenggorokannya, sementara mereka berbicara satu sama lain. "Enak, lho ! Hangat-hangat empuk ! Tapi gua pikir dia musti banyak berlatih soal beginian." kata Roy. "Mungkin dia belon pernah pake mulutnya buat karaoke. Gimana, Suster?" tanya Wiro penuh nafsu. "Bisa nggak makan kontol split, Sr.Florentine sayang?" tanya Arnold. "Terang aja dia bisa !
Mulutnya nggak dipake buat makan nasi doang tau?! Liat aja, punya gua dijepit sama bibirnya, kan?" kata Roy. Tangan Roy kemudian menjambak rambut Sr.Florentine dan mulai menggerakannya lagi dengan kasar membuat penisnya kembali bergerak keluar masuk di mulut Sr.Florentine. Semua orang dapat mendengar erangan Sr.Florentine yang terdengar setiap kali penis itu masuk jauh ke tenggorokannya. Ketika Roy akan mengalami ejakulasi ia menarik kepala Sr.Florentine hingga terbenam dalam-dalam di rimbunan rambut kemaluannya. Sperma langsung menyembur keluar memenuhi mulut Sr.Florentine.
Dan dari sudut mulut Sr.Florentine sperma menetes keluar, mengalir turun, menggantung di dagu Sr.Florentine. "Aaaaaaggghhhhh....... enak, Suster ! Terus telan semua sperma saya, kalo nggak, saya bakal terus menekan kepala Suster kaya gini!" Kemudian Roy mulai bergerak lagi. Sperma terus mengalir keluar, jatuh dari leher Sr.Florentine ke atas pakaian putih yang dikenakan Sr.Florentine. Ketika akhirnya ia menarik penisnya dari mulut Sr.Florentine, Sr.Florentine megap-megap menarik nafas dan tersedak saat berusaha menelan sisa sperma yang masih ada di mulutnya. Sr.Florentine sendiri lunglai tak berdaya setelah baru saja ia mengalami shock, merasakan sperma yang disemburkan masuk ke dalam mulutnya.
Pelan tapi pasti Arnold membuka kancing-kancing baju Sr.Florentine. Begitu kancing-kancing yang terletak di bagian dada itu terbuka, tampaklah dua payudara montok membulat yang terbungkus BH putih berenda. Puting susu Sr.Florentine tampak menonjol dari balik BH yang tipis itu. Arnold mengecup dan mencaplok (menyupang) payudara Sr.Florentine dengan bibirnya, satu demi satu. Kiri, lalu kanan. Ia sengaja tidak mengulum putingnya, menyisakan kenikmatan itu untuk tahap selanjutnya. Meskipun payudara Sr.Florentine masih terbungkus BH, namun Arnold dapat merasakan ketegangan yang timbul akibat rangsangannya. "Aah, Suster, kau punya payudara yang menggairahkan" kata Arnold kagum. "LEPASKAN, BANGSAT!! LEPASKAAAAAAANN!!" "Tenang, Suster...... kami akan buat Suster menikmati dan ketagihan seks!" kata Tono. Tanpa diduga Sr.Florentine, Arnold menghentikan 'serbuannya'. kini giliran Wiro duduk di kursi tinggi itu. S
ama seperti Roy, ia menyodorkan penisnya untuk dikaraoke oleh Sr.Florentine. Bedanya, Tono menahan ejakulasinya. Ia bertekad menghemat spermanya untuk session berikutnya. Begitu hendak ejakulasi, posisinya digantikan oleh Arnold, lalu kemudian oleh Wiro. Mereka berdua pun sama seperti Tono, menahan ejakulasi untuk tahap perkosaan selanjutnya. Menyimpan sperma untuk kenikmatan berikutnya. Pukul 08:45 Kursi tinggi itu disingkirkan dari hadapan Sr.Florentine. "Nah, Suster manis, sekarang gantian, ya. Kami pun ingin sarapan. Gimana kalo Suster sediakan omelettte vagina ? Ha...ha...ha..." Arnold tertawa sambil berjongkok di depan Sr.Florentine, lalu melucuti rok bawah dan celana dalam Sr.Florentine. Usaha itu harus dibantu oleh Wiro dan Tono yang masing-masing memegangi kaki Sr.Florentine, karena Sr.Florentine tak hentinya meronta dan menggeliat.
Sebenarnya Sr.Florentine sudah mulai terangsang ketika Arnold menggarap payudaranya. "Celaka!! Arnold membuatku terangsang, padahal payudaraku masih terbungkus BH. Apa jadinya kalau aku sudah telanjang ?? Aku harus terus melawan. Aku takkan pasrah begitu saja!!" Sr.Florentine berpikir dengan panik bercampur cemas. Setelah rok bawah dan celana dalam Sr.Florentine terlucuti, tampaklah vagina Sr.Florentine yang berwarna kemerahan dan ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus. Tanpa ragu Arnold menggarap vagina itu. Pertama-tama ia menciumi vagina itu, lalu sedikit demi sedikit mulutnya menyeruak masuk ke bagian dalam. Lidahnya mencari-cari clitoris Sr.Florentine. Begitu ditemukan, clitoris itu dijilat dan dikulumnya dengan penuh nafsu. "Hhmm.....mmnnyemm...ccp...slu uurppp" Arnold dengan bernafsu menyantap clitoris Sr.Florentine.
Ia sama sekali tidak mengacuhkan Sr.Florentine yang merintih dan memohon agar semuanya ini dihentikan. "AAAAAGGHHH.......STOP.....SSS STTOOOPPPP......ARRRNNNOOLLLD, TTO.. TTOOLONGG SS... SSSTOOPPP............. ADUUUUUHHH............ HHE... HENTIKAAAAN, OOOHHHH.... HHE.. HHENTTIKAAAAAN!!!!" "Alaaa, Suster...... bilang aja enak, gitu.... Emangnya kalo udah enak kaya gini, Suster mau berhenti ?" tanya Tono gemas. "AAAAGGHHH...... ENAK ATAU TIDAK, SAYA TIDAK MAU INI DITERUSKAN!! TOLONG JANGAN RANGSANG SAYA TERUS!!" Sedetik kemudian Sr.Florentine sadar bahwa ia kelepasan omong !! "Ah, jadi Suster sudah terangsang, ya ? Hei, ayo kita rangsang terus sampe dia nyerah!!" Wiro berkata dengan penuh semangat. Sementara itu dari arah samping, Roy menggarap payudara Sr.Florentine yang masih terbungkus BH. Sr.Florentine menjerit putus asa ketika Arnold meningkatkan volume serangannya.
Kini ia juga menggigit-gigit clitoris Sr.Florentine, sehingga tak ayal lagi Sr.Florentine makin mengggelinjang-gelinjang. Jeritan Sr.Florentine teredam oleh Tono yang mengulum bibirnya dengan penuh nafsu. Aksi Tono tidak di situ saja, melainkan juga menggarap leher Sr.Florentine. ia menyupangnya, menjadikan leher Sr.Florentine penuh bekas kemerahan. Tono kembali mengulum mulut Sr.Florentine dalam mulutnya. Lidahnya menjelajahi mulut Sr.Florentine dengan penuh nafsu. Sementara itu Sr.Florentine tak hentinya meronta. Rontaannya seolah terbagi dua, hendak menghentikan perkosaan ini tapi juga menikmati gairah birahinya yang kian memuncak. Vagina Sr.Florentine sudah basah oleh cairan yang keluar dari kelenjar seksualnya. Ia kini tak dapat memungkiri lagi. Ia tahu, keempat pemerkosanya pun tahu, bahwa kini Sr.Florentine sudah terangsang. Pukul 09:01 Arnold mengentikan 'sarapan'-nya dan posisinya digantikan oleh Roy. Posisi Roy yang menggarap payudara Sr.Florentine digantikan oleh Wiro yang juga sudah tak sabar lagi mencicipi tubuh Sr.Florentine.
Arnold tersenyum melihat teman-temannya begitu bersemangat menggarap Sr.Florentine. Bergantian mereka menyantap vagina Sr.Florentine sampai mereka puas. Pukul 09:49 Sr.Florentine lunglai....... ia kelelahan merasakan kenikmatan gairah yang timbul akibat rangsangan pada payudara dan vaginanya. "Aduh..... payudaraku masih terbungkus BH dan mereka belum melakukan penetrasi, tapi aku sudah begini terangsang. Apa jadinya nanti? Bagaimana jika aku 'kalah' ? Haruskah aku menyerah pada mereka? Tidak...tidaaaaakkk!!" Sr.Florentine berpikir makin kalut. Ia cemas atas nasibnya di tangan keempat pemuda ini. Ia malu jika harus mengakui 'kekalahannya' ini. Pukul 09:50 Belum sempat Sr.Florentine pulih dari kelelahannya, Arnold dan Wiro melepaskan Sr.Florentine dari ikatannya.
Mereka menyeret Sr.Florentine dan menghempaskannya ke kasur besar di lantai tengah ruangan itu. Kesempatan ini dipakai oleh Sr.Florentine untuk berusaha kabur, tapi usahanya itu kandas ketika Roy dan Tono memegangi tangan dan kakinya. Kedua tangan Sr.Florentine direntangkan sambil terus dipegangi oleh Roy. Tono dan Arnold masing-masing memegangi kakinya yang juga direntangkan lebar-lebar. Wiro mulai merendahkan dan hendak menelungkupkan tubuhnya, siap mempenetrasi lubang vagina Sr.Florentine dengan penisnya yang besar dan panjang. Sr.Florentine panik, ia makin meronta-ronta dan menggeliat-geliat. "LEPASKAN!! OH!! LEPASKAN!! KALIAN MEMANG BANGSAT!! AAAGHHH........ HENTIKAN....... LEPASKAN, BANGSAAAAATT!!" Sr.Florentine menjerit-jerit. "Wah, kok seorang suster ngomongnya kasar gitu ? Kalem aja, Suster sayang....... kami pasti bisa bikin Suster merasa nikmat. Ayo mulai, Wiro!" kata Arnold sambil tersenyum. Wiro tidak segera mempenetrasi Sr.Florentine.
Ia menunggu hingga Arnold selesai merenggut BH putih tipis yang berenda itu. Pelindung terakhir payudara Sr.Florentine pun terbuka, mempertontonkan dua bukit kembar yang amat menggiurkan birahi. Mereka semua mendesis menyaksikan kemolekan payudara Sr.Florentine. Dengan ganas Wiro mulai mempenetrasi Sr.Florentine. Ia menggenjotnya dengan kuat dan mantap. Karena baru sekali berhubungan seks, vagina itu masih sempit sekali. Penis Wiro serasa dijepit oleh sesuatu yang hangat dan kenyal. Namun walau begitu, Wiro bisa merasakan bahwa Sr.Florentine tidak lagi memiliki selaput dara, tanda keperawanan. "Astaga!!!! Suster kita ini rupanya udah pernah ngentot!! Selaput daranya udah hilang!!" Wiro berseru kaget. "Haa? Biarawati kan nggak boleh ngentot, gimana bisa hilang, hah??" Arnold juga tak kalah kaget. "Naaaahhh..... ketahuan deh..... rupanya diam-diam dia binal juga. Ngentot sama siapa, Suster?" Roy bertanya. "AAAAGHHH, LEPASKKAAAANNN....... SAYA CUMA SEKALI... OHHHHH....TIDAK...TIDDAAAKKKK" Lagi-lagi Sr.Florentine kelepasan omong !! "Astaga, kenapa aku ini, aku kelepasan omong lagi!
Kenapa aku nggak bilang saja aku dulu pernah diperkosa?" Sr.Florentine berpikir dengan rasa putus asa dan sesal yang mendalam. "Lhooo.... dia ngaku rupanya... hayooo sama siapa, Suster?" tanya Arnold. "AGGGHHHH.......GGGHHHH... .. JJA...JAA...JJAANGANHH.... HHHAARRAP SSA....SSAYA MAU BBBI... BBI...BILANGG...GHHHH" Sr.Florentine terus merintih dan mendesah. "Ah, nanti juga Suster pasti mau bilang. Saya punya 'resep khusus' supaya Suster mau bilang, siapa yang ngejebol selaput dara Suster yang pertama itu" kata Arnold. Tanpa belas kasihan Wiro menggenjot Sr.Florentine. Payudara Sr.Florentine yang sudah tak berpelindung BH itupun digarap oleh Wiro, bersamaan dengan Arnold yang memegangi tangan Sr.Florentine. Mereka menjilat, menyupang dan menggigiti payudara Sr.Florentine.
Kali ini puting payudara Sr.Florentine yang berwarna coklat kemerahan itu ikut menjadi sasaran serbuan. Sr.Florentine terus meronta dan menggelinjang. Vagina Sr.Florentine benar-benar sempit. Vagina itu menjepit dengan ketat serta berdenyut-denyut terus-menerus. Penis Wiro yang berada di dalam vaginanya terasa bagaikan diremas-remas dengan keras. "Layani ketiga teman saya dulu, Suster. Setelah itu saya ada kejutan buat Suster!" kata Arnold sambil nyengir. Pukul 10:27 Akhirnya Wiro pun tidak tahan lagi, saat tubuh Sr.Florentine mengejang karena sampai pada puncak kenikmatan (orgasme),
Wiro mempercepat gerakan naik turun sampai spermanya menyembur-nyembur ke dalam vagina Sr.Florentine. Wiro tidak langsung menarik penisnya keluar dari vagina Sr.Florentine. Ia ingin merasakan kehangatan vagina Sr.Florentine setelah lelah menggenjotnya. Pukul 10:31 Wiro menarik penisnya keluar. Kelegaan Sr.Florentine tak berlangsung lama karena Tono menggantikan peran Wiro. Kini giliran Tono mempenetrasi vagina Sr.Florentine. Tono pun mulai berpacu menuju puncak birahi. Genjotannya agak berbeda dengan gaya genjotan Wiro. Kalau Wiro menggenjot dengan ganas dan cepat, Tono menggenjot lebih pelan tapi sambil menghunjamkan penisnya dalam-dalam ke vagina Sr.Florentine. Penetrasi Tono lebih dalam daripada Wiro. Hal ini membuat Sr.Florentine makin kelimpungan. Ia menggelinjang setiap kali penis Tono menghunjam dalam-dalam. Tentu saja urusan penggarapan payudara pun tidak dilupakan Tono.
Mana ada pria normal yang mau melewatkan kesempatan mencicipi payudara indah milik Sr.Florentine!! Tapi rupanya Sr.Florentine ini bukan wanita dengan seksualitas biasa- biasa saja. Ketahanan seksualnya sungguh luar biasa. Wanita normal biasanya akan orgasme setelah penetrasi dan rangsangan selama kira- kira 5 sampai 10 menit, tapi rupanya Sr.Florentine ini mampu berlama- lama mencapai orgasme. Ia gampang atau cepat terangsang, tapi lama mencapai orgasme. Sungguh suatu tantangan tersendiri bagi kaum pria!! Pukul 11:04 Seperti Wiro, Tono pun harus menunggu sampai setengah jam sebelum ada tanda-tanda bahwa Sr.Florentine akan mencapai orgasme. Ketika ia merasa bahwa otot vagina Sr.Florentine makin kencang menjepit penisnya dan payudara Sr.Florentine pun mulai mengeras, Tono pun makin memperdalam hunjaman penisnya dan menyemprotkan spermanya ke dalam vagina Sr.Florentine. Ia menggeletak lemas di atas tubuh Sr.Florentine yang juga lunglai kelelahan. Pukul 11:08 Setelah Tono, kini giliran Roy.
Karena spermanya sudah terkuras akibat karaoke paksa pada awal perkosaan ini, Roy membutuhkan waktu agak lama mencapai ejakulasi dibanding kedua pendahulunya. Tipe genjotan Roy merupakan gabungan gaya genjotan Wiro dan Tono. Brutal dan dalam. Hal ini membuat Sr.Florentine tak mampu menghentikan rontaannya. Ia sebenarnya sudah lelah meronta, tapi gaya genjotan Roy sungguh membuatnya tak bisa pasrah begitu saja. Pukul 11:44 Sperma yang disemburkan Roy tidak sebanyak Wiro ataupun Tono, tapi makin membuat vagina Sr.Florentine makin banjir karena leleran sperma dan juga cairan vagina Sr.Florentine sendiri. Setelah mencabut penisnya dari vagina Sr.Florentine, Roy menggeletak lemas. Pukul 11:47 "Nah, gimana, Suster ? Ngaku deh.... siapa sih cowok beruntung yang merebut mahkota kewanitaan Suster?" tanya Arnold. "HHJJJHHAA....JJJA...JJANGAN.. .. HHA...HHHA...HHHHARRAPP SSA... SSAYA MMAU NGG...NNGG...NNGGAAKKU" kata Sr.Florentine tersengal kelelahan. "Coba saya lihat, sampai seberapa jauh Suster tahan terhadap saya!
Akan saya buat Suster memohon-mohon minta diberi orgasme!" kata Arnold. "JJJA...JJANGAN HARAP SAYA MENYERAH, BANGSAT!!!!" Pukul 11:48 Tanpa ba bi bu lagi Arnold menghunjamkan penisnya ke dalam vagina Sr.Florentine. Ketiga teman Arnold kini sudah tergeletak. Satu demi satu tertidur kelelahan. Mereka tak menyangka suster ini mampu membuat mereka lemas karena nikmat. Tanpa ada yang memeganginya lagi, Sr.Florentine mencoba sekali lagi untuk berontak. Tapi Arnold yang sudah dikuasai nafsu birahi itu mampu menahannya. Arnold memegang kedua tangan Sr.Florentine dan merentangkannya lebar-lebar. Yang lebih tak disangka lagi oleh Sr.Florentine adalah gaya genjotan Arnold yang luar biasa. Arnold mampu memadukan berbagai gaya dan rangsangan. Payudara ? Ah, payudara Sr.Florentine kini dipenuhi bekas cupangan berwarna merah. Putingnya makin memerah karena hisapan, gigitan dan kenyotan bibir Arnold. Mulut Arnold beraksi silih berganti antara payudara, belahan payudara, leher dan bibir Sr.Florentine.
Saat berciuman, mulut Sr.Florentine dikuasai dan dijelajahi sepenuhnya oleh Arnold. Genjotannya bervariasi antara lembut dan dalam, dangkal dan cepat, brutal dan mengoyak, dan sebagainya. Bagi Arnold, seolah Sr.Florentine merupakan inspirasi seksualitas tanpa batas. "Nnnaaahhh.... Susterku sayang..... siapa cowok beruntung itu...hhmmm...? Ayo jawab, Suster sayang!" kata Arnold di sela-sela genjotannya. "JJHHJA...... JJJHA...JJJANGAN HHHA... HHA..RRAP SSS... SS.. SSAYA MAU KKATT ...TTA....TTTAKAN...." Di saat Sr.Florentine hendak mencapai klimaks, Arnold menghentikan genjotannya, membuat Sr.Florentine penasaran. "Ayo, Suster...... siapa ?" tanya Arnold menggoda. Sr. Florentine tidak menjawab, ia hanya meronta-ronta dengan liar. Maka Arnold pun mulai lagi merangsang mulai dari bibir, leher, lalu turun ke belahan payudaranya. Puting payudara Sr.Florentine yang seolah menunggu untuk digarap, dibiarkannya dahulu.
Hal ini membuat Sr.Florentine makin penasaran. Sr.Florentine meronta-ronta, menggeliat-geliat dan menggelinjang-gelinjang dengan liar. Arnold yang sudah berpengalaman menghadapi wanita binal, mengetahui dengan pasti bahwa semua rontaan Sr.Florentine itu adalah hasrat terpendamnya untuk dipuaskan secara total. "SShhh.....shhh.... Suster.... saya akan puaskan Suster kalo Suster mau bilang ke saya dua hal. Pertama, siapa cowok yang mengambil keperawanan Suster, lalu kedua: Suster harus memohon pada saya untuk dipuaskan. Pikirkanlah, Suster..... bayangkan kenikmatan yang bisa saya berikan..... Pokoknya, Suster akan saya puaskan setelah Suster menjawab pertanyaan saya dan melakukan permintaan saya. Oh ya,.. satu lagi.
Sebelum saya puaskan, saya ingin Suster melayani saya dengan binal dan penuh gairah. Lepaskan semua hasrat terpendam Suster selama ini......!" Arnold terus merayu Sr.Florentine. "JJA...JJAJJANGAN.......SSSSTT TOOPPP..... OOOOGHHHH.... SSTTOOPP........." "Yakin nih, mau berhenti....?" tanya Arnold makin menggoda. Arnold memang menghentikan serangannya, tapi lalu dimulai lagi dengan lembut lalu makin lama makin ganas, panas dan bergairah. Dan ketika Sr.Florentine untuk kesekian kalinya hampir mencapai orgasme, Arnold berhenti. "Ssstt....ayo Suster......buat apa Suster mempertahankan gengsi? Kalau dengan saya, nggak usah malu. Terus terang saya pun kagum dengan Suster. Jarang wanita punya daya seks sekuat Suster.
Seandainya Suster bukan biarawati, pasti Suster sudah saya lamar untuk dijadikan istri!" Arnold terus merayu Sr.Florentine dengan perkataan dan rangsangannya. Pukul 13:40 Hampir dua jam Arnold menggauli Sr.Florentine, akhirnya Sr.Florentine menyerah........ "AAAGGHHH.....AAGHHHH.....OOOO HHH.... ARRNOOOOLD...... BBE...BEBBBE...BBENARKAH YANG KKAU KATTT... TTA...TTAKAN?" "Suster ingin kenikmatan, kan ? Kalo mau, percayalah pada saya..... mari kita capai kenikmatan itu bersama-sama, Suster manis..... Tapi sebelum itu, jawab dulu dua pertanyaan saya dan satu permintaan saya tadi" kata Arnold berusaha meyakinkan Sr.Florentine. "NNNNA......NNNA........NNNAMM MA... CCHHO...CCOWWOKK IT.. ITTU SANN...NNNO, MMURRID SSA..SSAYYA DDULU..... KKEJJA... JJADIANNYA TTIGATTA... TTAHUNN LALU DDI..DDI... RRUANG UKS...SSE.. SSSEEKKOLAHHH............." Sr.Florentine pun menceritakan pengalaman pertamanya itu. "SSSA...SSA...SSA....SSSAA YYYA MMO...MMOHHON, AARR.. ARRRNNOLD SUDI MMEMMME...MMMEMMUASKKHAN SSA.. SSAYA..."
Sr.Florentine memohon-mohon sambil meronta dan menggeliat. "Ssssttt..... masih ada permintaaan saya yang Suster belum penuhi....." kata Arnold sambil mengedipkan mata. "AA...AAAPPPA ITU, AAARRNOLD SSA...SSSHAYANNGG...." Sr.Florentine pun rupanya berusaha merayu Arnold dengan panggilan 'sayang' agar ia cepat dipuaskan. "Ah, masa lupa...?? Hayoo.... apa...?? Jangan malu, Susterku sayang! Ayo katakan, Sayang........." Arnold menyeringai nakal. "SSA...SSSA.... SSAYYA RRE..RRELLA MME... MMELAYY... YYANI ARR...RRNOLD..." "Suster mau bermain seks dengan binal?" tanya Arnold. Sr.Florentine mengangguk lemah. "Jangan cuma mengangguk, Suster Florentine sayang........, katakan bahwa Suster juga mau bermain seks dengan binal demi kepuasan kita berdua" kata Arnold lembut tetapi mengandung ketegasan dan perintah.
"SSA...SSA...YYA RRELA MME..MMEMMMELLAYYANI ARR.. RRNOLD DDE...DDENGAN BINAL...... DDE..DDEMI KKEBAHAGGIAAAN KKITA BBE..BBEBBBERRDUA...... AAAAGGGHHH....... TTU TTUTTUNNGGU APP...PPPPA LLAGGI, ARRR..RRNOLD SSA..SSAYYANG?" kata Sr.Florentine makin memelas. Arnold tersenyum, lalu ia mulai menggarap Sr.Florentine dengan lebih bergairah. Rontaan dan geliat Sr.Florentine kini berubah menjadi gerakan-gerakan erotis yang liar dan binal. Jeritan dan rintihan Sr.Florentine kini menjadi erangan penuh kenikmatan saat mereka berpacu menuju puncak birahi. Sr.Florentine ternyata sangat binal. Erotismenya liar sekali. Pengalaman pertamanya yang lama belum terulang membuatnya haus seks luar biasa. Ia bagaikan musafir yang penuh dahaga. Arnold memenuhi janjinya.
Dibawanya Sr.Florentine menuju puncak birahi, seluruh daya seksnya dikerahkan untuk merangsang Sr.Florentine. Mulut, leher, belahan payudara, payudara dan putingnya dilalap oleh Arnold dengan penuh nafsu. Vagina Sr.Florentine digenjot dan dijelajahi oleh Arnold, termasuk bagian G-spotnya (bagian tersensitif dalam vagina wanita). Keperkasaan Arnold diimbangi oleh kebinalan Sr.Florentine. Pukul 15:55 Akhirnya setelah lebih dari 4 jam Arnold menggaulinya, Sr.Florentine merasa bahwa orgasmenya tak mungkin ditahan lagi. Arnold pun menyadarinya. Tanda-tanda itu jelas terlihat dan terasakan olehnya. Payudara Sr.Florentine mengencang, putingnya menegang disertai mengerasnya jepitan vagina Sr.Florentine.
Gerakannya makin erotis. Dadanya membusung, seolah menyodorkan dan menawarkan payudaranya seluruhnya penuh damba. Dengan penuh gairah, Arnold menyemburkan seluruh spermanya ke dalam vagina Sr.Florentine, sambil mengenyot puting payudara Sr.Florentine, bergantian kiri dan kanan. Sr.Florentine memekik tatkala dirasakannya cairan hangat memenuhi vaginanya.
Rasa nikmat itu sungguh luar biasa. Rasa nikmat itu terasakan di sekujur tubuhnya, terutama di bagian dalam vaginanya dan di puting payudaranya. "AAAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGHHHHHHH HHH............. AAAAAAAAGGGHBB ......." pekikannya itu diredam oleh kuluman mulut Arnold. Setelah semburan puncak birahi selama beberapa detik yang berharga itu, mereka lunglai lemas. Penis Arnold bersarang di vagina Sr.Florentine yang kini sudah banjir oleh sperma dan cairan vaginanya sendiri. Mereka tertidur dalam kebahagiaan seksual. ........…

Sabtu, 25 Juni 2011

Dari Chatting Ke Lesbi

Hai, namaku Bunga (samaran), umur 21 tahun, aku masih kuliah di salah satu PTN terkenal di Jogja. Terus terang saja aku adalah seorang gadis yang menyukai sesama jenis dan aku menyadarinya semenjak SMP kelas 3. Dan aku mulai bereksperimen dengan dunia lesbianku semenjak kelas 1 SMA. Ini adalah sepenggal kisah pengalaman pribadiku yang benar-benar terjadi. Semua nama orang dan tempat dalam cerita ini sengaja disamarkan untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan.
Kisah ini diawali dengan kegemaranku akan chatting pakai IRC dari dua tahun lalu. Dengan nick name **** (edited), aku iseng menjelajahi dunia cyber. Akhirnya kutemukan chat room/channel yang cocok denganku yaitu #lesbi, #lesbian, #lesbians, #lezbo, dan masih banyak lagi, bahkan aku sempat menjadi salah satu OP di sebuah channel lesbian. Aku pun mulai berkenalan dengan beberapa orang yang kebanyakan dari luar negeri dan yang dari negeri sendiri. Bisa di katakan 50% orang yang online di channel tersebut adalah laki-laki, hal itu yang membuatku menjadi agak jengkel, mereka semua penipu. Sampai akhirnya aku berkenalan dengan seorang wanita.
(***-devil) Hii.. boleh kenal nggak yah?
(****_girl) Boleh.. boleh.. asl-nya donk.
(***-devil) Aku 30 f jkt.. kamu?
(****_girl) Gue 20 f Jogja city.. hi hi hi, eh udah agak tua hihihihi.
(***-devil) Yee.. emang nggak boleh, eh real name dong biar enak manggilnya.
(****_girl) Gue Bunga.
(***-devil) Met kenal Bunga.. kenalkan aku.. Lina.
Obrolan kami pun terus berlangsung, mulai dari hal-hal yang ringan hingga hal-hal yang berbau seks. Hampir setiap hari kami bertemu di channel, kami pun mulai bertukar alamat, nomor telepon, dan foto beserta biodata melalui e-mail maupun langsung saat online di channel. Mbak Lina adalah wanita karier yang termasuk dalam golongan yuppies (young urban profesional), dia belum berkeluarga dan hidup sendiri di tengah kerasnya kehidupan ibukota. Hingga pada suatu hari telepon di kosku berdering.
“Halo.. bisa bicara dengan Dik Bunga?”
Aku pun menjawab, “Ya, saya sendiri.. mm ini dari siapa yah?”
“Ini aku Dik.. Mbak Lina!”
Aku tersentak, ya ampun suaranya begitu halus dan lembut, suaranya mampu menggetarkan hatiku.
“Ya ampun Mbak Lina.. bikin kaget saja, gimana kabarnya Mbak?”
“Baik-baik aja, eh Mbak bisa minta tolong nggak?”
“Ada apa Mbak?”
“Mbak sekarang ada di Jogja nih.. bisa nggak kamu jemput Mbak di stasiun, sekalian nyari hotel buat Mbak bisa nggak?”
“Oh my god.. kenapa nggak bilang-bilang kalau mau ke Jogja Mbak, iya deh Mbak aku jemput sekarang, Mbak tunggu saja di sana ok?”
“OK.. makasih yah.”
Dengan segera sore itu juga aku menjemputnya di stasiun, tak lupa kubawa fotonya agar aku lebih mudah mengenali dirinya. Sesampainya di stasiun, aku langsung bisa mengenalinya, wanita anggun dengan setelan blazer khas wanita karier. Aku pun menyapanya, “Mbak Lina..!” Dia pun berpaling kepadaku, dan tampaknya dia terperanjat, “Ya ampun.. Bunga.. kamu nampak jauh lebih cantik dibandingkan photomu.” katanya, sembari tanpa malu-malu mengecup pipiku. Aku pun membalasnya dengan agak canggung. “Udah Mbak.. ngobrolnya sambil jalan aja, udah sore nih, entar kemaleman lagi.. yuk!” kataku sambil kugandeng tangannya. Selama perjalanan Mbak Lina bercerita bahwa dia ambil cuti seminggu untuk liburan, dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke Jogja, dia ingin mengunjungi Borobudur, Prambanan, pantai Parang Tritis serta daerah wisata lain di sekitar Jogja. Aku mencarikannya hotel yang dekat dengan kosku di sekitar kampus.
Kami pun tiba di hotel T, setelah check in kami berdua segera menuju kamar, tampaknya Mbak Lina sangat lelah akibat perjalanannya.
“Mbak.. kalau Mbak lelah, jalan-jalan ke Malioboronya besok aja Mbak, mendingan Mbak istirahat aja sekarang, OK?” kataku sembari beranjak keluar ruangan.
“Lho Bunga! kamu mau kemana?” tanya dia.
“Mmm.. anu Mbak, Bunga pulang ke kos dulu.. mau mandi, kan udah sore.”
“Kamu ini gimana, mandi di sini kan bisa, habis mandi nanti kita keluar.. anterin Mbak jalan-jalan, gimana mau khan? please!” katanya sambil memohon kepadaku, aku pun mengangguk.
Mbak Lina mulai melepas bajunya satu demi satu hingga tinggal BH dan celana dalamnya saja. “Bunga.. kamu ini gimana, katanya mau mandi, ayo buka bajunya!” katanya sembari melucuti pakaianku, aku hanya bisa pasrah saja dengan tingkah lakunya, dia pun juga menyisakan BH dan celana dalamku saja, meski tubuhku (175 cm) lebih besar dibanding dia (kurang lebih 165 cm) aku tidak banyak berkutik. Aku bisa melihat lekuk tubuhnya yang indah dengan jelas, dadanya seukuran denganku 36B, dan ia memiliki belahan pantat yang sangat indah. “Hei.. disuruh mandi kok malah bengong, ayo..!” dia membimbingku ke kamar mandi, kemudian segera menutup pintu kamar mandi begitu kami berdua berada di dalam. “Mmm.. mandinya bareng aja yah, biar lebih cepet, “katanya sambil tersenyum, sekarang dia mulai melepas BH dan celana dalamnya dan tanpa canggung melepas punyaku juga. Terpampang jelas di depanku wanita cantik dan seksi dengan payudara yang padat dan menjulang ke atas, aku bisa membaui aroma kewanitaanya dari kemaluannya, membuat kemaluanku semakin basah. Tanpa pikir panjang aku langsung menubruk dan memeluk tubuhnya, aku memepet tubuhnya ke dinding sehingga dia tidak dapat berkutik lagi, aku bisa merasakan sensasi yang menakjubkan ketika payudaranya bergesekan dengan payudaraku, aku bisa merasakan nafasnya mulai tidak beraturan. Mbak Lina memejamkan matanya, tampaknya dia pasrah dalam pelukanku.
Tanganku pun mulai bergerilya, menyusuri tubuh indahnya, kulumat bibir indahnya dengan bibirku, dia membalas pagutan demi pagutan, dia merangkulkan tangannya ke leherku, napasnya semakin memburu dan aroma khas kewanitaannya semakin keras menusuk hidungku. Aku pun merasa kemaluanku semakin basah, payudaraku pun semakin menegang. Pelan-pelan tanganku mulai merambat menuju kemaluannya dan.. ya ampun.. kemaluannya sudah sangat basah, kuraba selangkangannya dengan lembut, dan ia sempat tersentak ketika jari-jariku meraba klitorisnya, ketika jariku ingin kumasukkan ke dalam liang kemaluannya dia mencegahku dengan wajah memelas, dia menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin aku melakukannya, mungkin dia masih perawan pikirku. Dia pun berkata, “Sayang.. dielus-elus saja yah.. please,” katanya sambil memelas. Aku pun hanya mengangguk. Kulumat lagi bibir indahnya sambil mengusap-usap kemaluannya, dia pun juga mulai mengusap kemaluanku. Beberapa saat kemudian aku merasakan sensasi enak yang menjalari tubuhku, hangat dan mulai memusat ke arah kemaluanku.
“Mbak.. ahh.. ah.. oughh.. terus.. jangan berhentii.. uuhh.. udah mau keluar nih.”
“Bunggaa.. aah.. Mbak juga udah mau keluar nih.. ouughh..”
Sesaat kemudian tubuhku mengejang-ngejang dan aku merasakan cairan hangat mengalir deras dari kemaluanku, begitu juga dengan Mbak Lina dia memelukku dengan erat ketika dia mencapai orgasme, dia melumat bibirku agar tidak berteriak, setelah agak mereda, dia mulai melepaskan pelukannya tapi kemudian ambruk dalam pelukanku, tampaknya dia sangat lelah kemudian aku pun memandikannya dengan lembut dan dia pun juga melakukan sebaliknya kepadaku. Dia tampak pasrah sekali kepadaku, sampai-sampai dia tidak mau melepaskan pelukannya dariku. Kukeringkan badannya dengan handuk sambil sesekali mengelus payudara ataupun kemaluannya dan dia tidak memberikan perlawanan yang berarti sama sekali.
Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, kemudian kuciumi sekujur tubuhnya yang masih bau sabun, kulitnya putih, mulus , halus, lembut, tanpa cacat dan aku suka itu. Mbak Lina sudah tampak pasrah sekali dan dia tidak bisa melakukan perlawanan sama sekali, dan kupikir ini merupakan suatu kesempatan bagiku. Kuikatkan kedua tangannya ke ranjang dengan scarf miliknya, dan dia masih tidak melawan, aku tidak habis pikir, pasti dia menikmatinya, gumamku dalam hati. Kutindih tubuhnya dengan tubuhku, kuciumi bibirnya dengan penuh nafsu. Kembali sensasi menakjubkan itu kurasakan saat tubuhku menghimpit tubuhnya, nafasku menjadi semakin tidak karuan, kedua kemaluan kami saling bergesekan. Oh, aku sudah tidak tahan lagi, langsung saja kuremas kedua payudaranya sambil sesekali kuhisap, berkali-kali ia menjerit lirih. “Ohh.. mm.. uuouugh.. Bunga.. uuhh..”jeritnya tertahan. Desahannya itu semakin membuatku kehilangan akal, tanpa pikir panjang kumasukkan kedua jariku ke dalam liang kemaluannya, dan.. “Bles..” meskipun liang kemaluannya masih rapat, aku tahu kalau dia sudah tidak perawan, sempat terlintas di pikiranku kenapa dia melarangku melakukannya tadi. Sesaat dia ingin mengatakan sesuatu tapi dengan cepat aku langsung membungkam mulutnya dengan tanganku yang lain, dia pun mulai meronta.
Kembali kutindih tubuhnya agar dia tidak bisa berkutik, sembari jariku masih mengobok-obok kemaluannya. Kedua jariku berusaha mencari titik G-spotnya, sampai akhirnya aku menemukannya, kemudian aku tekan kedua jariku. Beberapa saat kemudian Mbak Lina mulai menggeliat-geliat, kedua kakinya dilingkarkannya ke pinggangku, tubuhnya mulai mengejang, bahkan pantatnya sampai terangkat, mulutnya masih kubungkam dengan tanganku. Tubuh Mbak Lina mengejang dengan hebat sampai-sampai Mbak Lina memejamkan matanya. Setelah agak mereda, aku segera lepaskan tanganku dari mulutnya. Saat itu aku baru menyadari kalau Mbak Lina menangis, aku pun melepaskan ikatan tangannya dan.. “Plakk.. plakk..” Mbak Lina langsung menampar wajahku dua kali. Karena aku merasa tidak melakukan suatu kesalahan, aku pun mulai menangis. Belum pernah aku ditampar oleh seorang pun seumur hidupku.
“Hiks.. hiks.. Bunga.. kamu jahat sekali” katanya sambil sesenggukan.
“Mbak.. apa salahku..” kataku sembari berusaha menghapus air mataku yang bertambah deras.
“Kamu.. kamu kan harusnya sudah tahu itu, Mbak kan sudah bilang.. jangan kamu lakukan itu tapi tetap saja kamu lakukan itu. Kamu tuh nggak ngerti perasaan Mbak.. hiks,” katanya sambil menahan tangis.
“Mbak.. Bunga minta maaf, waktu itu Bunga kalap.. jadi Bunga kehilangan kontrol.. maafkan aku ya Mbak!” aku mengiba kepadanya.
Mbak Lina tidak memperdulikan ucapanku, dia membalikkan tubuhnya dan membenamkan wajahnya ke bantal sambil menangis tersedu-sedu. Aku menjadi serba salah. Aku pun segera berpakaian, kurasa Mbak Lina sekarang lagi ingin menyendiri, jadi pelan-pelan kutinggalkan kamarnya. Aku keluar dari hotel dengan berat hati karena merasa sangat bersalah. Dua jam kemudian aku kembali ke kamarnya, ternyata dia tak mengunci pintu kamarnya, aku pun masuk dengan mengendap-endap, aku takut dia masih marah kepadaku. Aku melihatnya masih teronggok di atas ranjang, tampaknya dia kelelahan sampai tertidur, kasihan aku melihatnya. Aku pun mendekat dan berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut. Tapi kemudian ia terbangun, mungkin ia terbangun olehku. Dia membetulkan selimutnya sambil menatapku dalam-dalam, aku tak berani menatapnya, aku hanya bisa tertunduk malu.
“Bunga sekarang jam berapa?” katanya kepadaku.
“Jam sembilan Mbak,” jawabku takut-takut, sambil terus menunduk.
“Ya ampun.. Mbak belum makan malam nih.. temenin Mbak makan yuk!” kata dia.
Aku tidak menjawab, aku hanya mengangguk pelan. Dia pun segera berdandan dan berganti pakaian. Lalu dia menggandeng tanganku keluar kamar, dia menggenggam tanganku dengan erat, entah apa yang dipikirkannya.
Kami pun akhirnya makan di sebuah rumah makan dekat hotel yang kebetulan buka sampai malam. Selama makan pun kami saling berdiam diri, tidak mengucapkan sepatah katapun. Sepulang dari rumah makan itu, Mbak Lina kembali menggandeng tanganku dengan erat, seolah tidak ingin melepaskanku. Kami kembali menuju hotel dan segera menuju kamar. Begitu kami masuk kamar, Mbak Lina langsung mendudukkanku di bibir ranjang, aku sudah siap jika ia ingin memarahiku lagi, aku menundukkan kepalaku, tidak berani menatap wajahnya. Tapi kemudian tangannya yang halus dan lembut mendongakkan kepalaku, dia menatapku dalam-dalam. Karena merasa takut, tanpa sadar air mataku mulai mengalir.
“Lho Bunga.. kenapa kamu menangis?” tanya dia sambil menghapus air mataku.
“Mbak.. Bunga minta maaf, Bunga ngaku salah, maafin aku ya Mbak..!” kataku terisak.
Mbak Lina bersimpuh di hadapanku, diambilnya tanganku, dia genggam erat tanganku.
“Bunga.. harusnya Mbak yang minta maaf sama kamu, Mbak udah ngasarin kamu.. udah sekarang kamu jangan nangis lagi yah.. sayang,” kata dia sambil mengecup keningku.
“Harusnya Mbak memberitahu kamu sejak awal tentang ini.. mm.. begini. Sebenarnya Mbak punya komitmen akan sesuatu..” katanya memecah suasana.
Dia berkata, “Mbak pernah berjanji pada diri sendiri, barang siapa yang pertama kali melakukan seperti apa yang kamu lakukan tadi pada Mbak, maka Mbak akan setia bersama dia sebagai seorang kekasih.”
“Tapi.. tapi Mbak kan sudah nggak perawan lagi..” kataku.
“Iya betul.. tapi aku kehilangan kegadisanku oleh tanganku sendiri, perlu kamu ketahui kamulah orang pertama yang melakukan itu padaku, meski dulu aku punya pacar tapi tidak ada yang seberani kamu dan senekat kamu sehingga mereka tidak pernah berani macam-macam sama Mbak.. kamu mengerti sekarang sayang,” kata dia.
Dia kembali berkata, “Bunga.. maukah kamu menjadi kekasihku?” dia memohon sambil berlutut di hadapanku. Sekali lagi aku tidak ingin membuat kesalahan, aku tidak ingin mengecewakannya lagi, aku pun mengangguk pelan. Mbak Lina pun bangkit, kemudian dia duduk di pangkuanku, lalu dia melepas t-shirt yang dikenakannya, terpampanglah dua gundukan indah di hadapanku, terbalut BH putih berenda. Kami berpandangan, Mbak Lina tersenyum manja, kemudian dia mengecup bibirku, aku pun tersenyum. Kupeluk tubuh indahnya kemudian kubaringkan dia, kemudian.. “Bunga! Jangan ditindih ya.. please.. habis kamu berat sih,” katanya manja. Aku pun cuma mengangguk, aku lalu berbaring di sampingnya, kubelai rambutnya dengan lembut, kukecup keningnya, bibirnya, kemudian lidahku mulai menelusuri tubuhnya, kucium dadanya, pagutan demi pagutan membuatnya tampak kegelian. Kulepaskan BH-nya yang dari tadi masih menutupi gunung kembarnya, puting susunya tegak berdiri, tampaknya dia sudah sangat terangsang. Kujilati puting susunya satu persatu. “Oooh..!” Mbak Lina mendesah kegelian, aku pun mulai menghisap puting susunya yang sebelah kanan sedang yang kiri kupilin-pilin putingnya dengan kedua jariku. Kali ini Mbak Lina mengeluarkan desahan-desahan yang menggairahkanku, dia memejamkan mata sambil menggigit bibirnya, berusaha menahan gairah yang begitu menggelora.
Setelah cukup puas, kubuka t-shirt beserta BH-ku, kupeluk tubuhnya kemudian kubalikkan tubuhnya sehingga kini ia menindihku. Dia duduk di atas tubuhku. Kini tangannya mulai usil memilin-milin kedua puting susuku sambil tersenyum manja, kulingkarkan tanganku ke pinggangnya sehingga tubuhnya semakin dekat denganku. Kuraih punggungnya sehingga ia kembali menindihku, kedua kaki kami saling membelit, tangannya masih meremas-remas kedua payudaraku, dia menatapku dalam-dalam, aku tahu apa maksudnya. Bibir kami pun bertemu, saling melumat, lidah kami saling berpilin, dada kami saling bergesekan, aku pun mulai merasakan kehangatan bunga-bunga cinta di antara kami.
Mbak Lina sudah tidak sabar lagi, ia mulai melepas celana jeans beserta celana dalam yang dikenakannya, dia juga melepas pakaian yang masih menempel di tubuhku. Kini kami berdua sama-sama telanjang bulat, kami mulai bergumul di atas ranjang, berguling-guling ke sana kemari. Aroma kewanitaan dari kemaluan kami mulai terasa keras menusuk hidung. Kemaluan kami berdua benar-benar basah, terbukti ketika kami saling menggosokkan kemaluan kami sampai terdengar bunyi berdecak-decak pertanda kemaluan kami sangat becek. Bibirku terus melumat bibirnya, nafasnya mulai tidak teratur, kumasukkan kedua jariku ke kemaluannya, dia pun tak mau kalah dia juga memasukkan kedua jarinya ke dalam liang kemaluanku, aku mulai mengobok-obok kemaluannya sambil terus memeluknya dengan erat. Tidak.. sekarang tidak hanya kedua jariku, kini kumasukkan tiga jari ke dalam kemaluannya dan dia pun semakin menggila, tangannya yang satu lagi meremas pantatku dengan kuat, tubuhnya semakin mengejang-ngejang.
“Ooohh.. oughh.. aahh.. Bungaa.. mau keluar nihh.. oohh..” dia mendesah dengan keras.
Dan aku pun bisa merasakan cairan hangat keluar dari kemaluannya, aroma kewanitaan pun semakin terasa, membuatku semakin menggila. Tak lama kemudian aku pun mencapai orgasme, tubuhku mengejang dengan hebat, seolah-olah ada yang meledak dalam tubuhku. Kami berdua terkulai lemas dalam pelukan, aku masih sempat melihat dia tersenyum kepadaku, kemudian dia memejamkan matanya dan tidur dalam pelukanku. Keesokan harinya aku terbangun, aku mendapati dirinya masih meringkuk dalam pelukanku, aku sibakkan rambut yang menutupi wajahnya, wajahnya tampak berseri-seri, aku tidak tega membangunkannya, dia begitu cantik dan anggun. Aku pun terus membelainya sampai kemudian ia terbangun. Kukecup bibirnya dengan lembut. “Selamat pagi..” kataku lirih.
TAMAT
Bu Dosen Yang Cantik
Cerita ini bermula pada waktu itu aku lagi kuliah di semester VI di salah satu PTS di Bandung. Ceritanya saat itu aku lagi putus dengan pacarku dan memang dia tidak tahu diri, sudah dicintai malah bertingkah, akhirnya dari cerita cintaku cuma berumur 2 tahun saja. Waktu itu aku tinggal berlima dengan teman satu kuliah juga, kita tinggal serumah atau ngontrak satu rumah untuk berlima. Kebetulan di rumah itu hanya aku yang laki-laki. Mulanya aku bilang sama kakak perempuanku, “Sudah, aku pisah rumah saja atau kos di tempat”, tapi kakakku ini saking sayangnya padaku, ya saya tidak diperbolehkan pisah rumah. Kita pun tinggal serumah dengan tiga teman wanita kakakku.
Ada satu diantara mereka sudah jadi dosen tapi di Universitas lain, Ibu Vivin namanya. Kita semua memanggilnya Ibu maklum sudah umur 40 tahun tapi belum juga menikah. Ibu Vivin bertanya,
“Eh, kamu akhir-akhir ini kok sering ngelamun sih, ngelamunin apa yok? Jangan-jangan ngelamunin yang itu..”
“Itu apanya Bu?” tanyaku.
Memang dalam kesehari-harianku, ibu Vivin tahu karena aku sering juga curhat sama dia karena dia sudah kuanggap lebih tua dan tahu banyak hal. Aku mulai cerita,
“Tahu nggak masalah yang kuhadapi? Sekarang aku baru putus sama pacarku”, kataku.
“Oh…. gitu ceritanya, pantesan aja dari minggu kemarin murung aja dan sering ngalamun sendiri”, kata Ibu Vivin.
Begitu dekatnya aku sama Ibu Vivin sampai suatu waktu aku mengalami kejadian ini. Entah kenapa aku tidak sengaja sudah mulai ada perhatian sama Ibu Vivin. Waktu itu tepatnya siang-siang semuanya pada kuliah, aku sedang sakit kepala jadinya aku bolos dari kuliah. Siang itu tepat jam 11:00 siang saaat aku bangun, eh agak sedikit heran kok masih ada orang di rumah, biasanya kalau siang-siang bolong begini sudah pada nggak ada orang di rumah tapi kok hari ini kayaknya ada teman di rumah nih. Aku pergi ke arah dapur.
“Eh Ibu Vivin, nggak ngajar Bu?” tanyaku.
“Kamu kok nggak kuliah?” tanya dia.
“Habis sakit Bu”, kataku.
“Sakit apa sakit?” goda Ibu Vivin.
“Ah… Ibu Vivin bisa aja”, kataku.
“Sudah makan belum?” tanyanya.
“Belum Bu”, kataku.
“Sudah Ibu Masakin aja sekalian sama kamu ya”, katanya.
Dengan cekatan Ibu Vivin memasak, kita pun langsung makan berdua sambil ngobrol ngalor ngidul sampai-sampai kita membahas cerita yang agak berbau seks. Kukira Ibu Vivin nggak suka yang namanya cerita seks, eh tau-taunya dia membalas dengan cerita yang lebih hot lagi. Kita pun sudah semakin jauh ngomongnya. Tepat saat itu aku ngomongin tentang perempuan yang sudah lama nggak merasakan hubungan dengan lain jenisnya.
“Apa masih ada gitu keinginannya untuk itu?” tanyaku.
“Enak aja, emangnya nafsu itu ngenal usia gitu”, katanya.
“Oh kalau gitu Ibu Vivin masih punya keinginan dong untuk ngerasain bagaimana hubungan dengan lain jenis”, kataku.
“So pasti dong”, katanya.
“Terus dengan siapa Ibu untuk itu, Ibu kan belum kimpoi”, dengan enaknya aku nyeletuk.
“Aku bersedia kok”, kataku lagi dengan sedikit agak cuek sambil kutatap wajahnya.
Ibu Vivin agak merah pudar entah apa yang membawa keberanianku semakin membludak dan entah kapan mulainya aku mulai memegang tangannya. Dengan sedikit agak gugup Ibu Vivin kebingungan sambil menarik kembali tangannya, dengan sedikit usaha aku harus merayu terus sampai dia benar-benar bersedia melakukannya.
“Okey, sorry ya Bu, aku sudah terlalu lancang terhadap Ibu Vivin”, kataku.
“Nggak, aku kok yang salah memulainya dengan meladenimu bicara soal itu”, katanya.
Dengan sedikit kegirangan, dalam hatiku dengan lembut kupegang lagi tangannya sambil kudekatkan bibirku ke dahinya. Dengan lembut kukecup keningnya. Ibu Vivin terbawa dengan situasi yang kubuat, dia menutup matanya dengan lembut. Juga kukecup sedikit di bawah kupingnya dengan lembut sambil kubisikkan,
“Aku sayang kamu, Ibu Vivin”, tapi dia tidak menjawab sedikitpun.
Dengan sedikit agak ragu juga kudekatkan bibirku mendekati bibirnya. Cup… dengan begitu lembutnya aku merasa kelembutan bibir itu. Aduh lembutnya, dengan cekatan aku sudah menarik tubuhnya ke rangkulanku, dengan sedikit agak bernafsu kukecup lagi bibirnya. Dengan sedikit terbuka bibirnya menyambut dengan lembut. Kukecup bibir bawahnya, eh… tanpa kuduga dia balas kecupanku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan. Kutelusuri rongga mulutnya dengan sedikit kukulum lidahnya. Kukecup, “Aah… cup… cup… cup…” dia juga mulai dengan nafsunya yang membara membalas kecupanku, ada sekitar 10 menitan kami melakukannya, tapi kali ini dia sudah dengan mata terbuka. Dengan sedikit ngos-ngosan kayak habis kerja keras saja.
“Aah… jangan panggil Ibu, panggil Vivin aja ya!”
Kubisikkan Ibu Vivin, “Vivin kita ke kamarku aja yuk!”.
Dengan sedikit agak kaget juga tapi tanpa perlawanan yang berarti kutuntun dia ke kamarku. Kuajak dia duduk di tepi tempat tidurku. Aku sudah tidak tahan lagi, ini saatnya yang kutunggu-tunggu. Dengan perlahan kubuka kacing bajunya satu persatu, dengan lahapnya kupandangi tubuhnya. Ala mak… indahnya tubuh ini, kok nggak ada sih laki-laki yang kepengin untuk mencicipinya. Dengan sedikit membungkuk kujilati dengan telaten. Pertama-tama belahan gunung kembarnya.
“Ah… ssh… terus Ian”, Ibu Vivin tidak sabar lagi,
BH-nya kubuka, terpampang sudah buah kembar yang montok ukuran 34 B. Kukecup ganti-gantian,
“Aah… sssh…” dengan sedikit agak ke bawah kutelusuri karena saat itu dia tepat menggunakan celana pendek yang kainnya agak tipis dan celananya juga tipis, kuelus dengan lembut, “Aah… aku juga sudah mulai terangsang.
Kusikapkan celana pendeknya sampai terlepas sekaligus dengan celana dalamnya, hu… cantiknya gundukan yang mengembang. Dengan lembut kuelus-elus gundukan itu,
“Aah… uh… sssh… Ian kamu kok pintar sih, aku juga sudah nggak tahan lagi”,
Sebenarnya memang ini adalah pemula bagi aku, eh rupanya Vivin juga sudah kepengin membuka celanaku dengan sekali tarik aja terlepas sudah celana pendek sekaligus celana dalamku.
“Oh… besar amat”, katanya. Kira-kira 18 cm dengan diameter 2 cm, dengan lembut dia mengelus zakarku,
“Uuh… uh… shhh..” dengan cermat aku berubah posisi 69, kupandangi sejenak gundukannya dengan pasti dan lembut. Aku mulai menciumi dari pusarnya terus turun ke bawah, kulumat kewanitaannya dengan lembut, aku berusaha memasukkan lidahku ke dalam lubang kemaluannya,
“Aah… uh… ssh….. terus Ian”, Vivin mengerang.
“Aku juga enak Vivin”, kataku. Dengan lembut di lumat habis kepala kemaluanku, di jilati dengan lembut,
“Assh… oh… ah…. Vivin terus sayang”,
Dengan lahap juga kusapu semua dinding lubang kemaluannya, “Aahk… uh… ssh…..” sekitar 15 menit kami melakukan posisi 69, sudah kepengin mencoba yang namanya bersetubuh. Kuubah posisi, kembali memanggut bibirnya.
Sudah terasa kepala kemaluanku mencari sangkarnya. Dengan dibantu tangannya, diarahkan ke lubang kewanitaannya. Sedikit demi sedikit kudorong pinggulku,
“Aakh… sshh… pelan-pelan ya Ian, aku masih perawan”, katanya.
“Haaa…” aku kaget, benar rupa-rupanya dia masih suci.
Dengan sekali dorong lagi sudah terasa licin. Blessst,
“Aahk…” teriak Vivin,
kudiamkan sebentar untuk menghilangkan rasa sakitnya, setelah 2 menitan lamanya kumulai menarik lagi batang kemaluanku dari dalam, terus kumaju mundurkan. Mungkin karena baru pertama kali hanya dengan waktu 7 menit Vivin…
“Aakh… ushh… usssh… ahhhkk… aku mau keluar Ian”, katanya.
“Tunggu, aku juga sudah mau keluar akh…” kataku.
Tiba-tiba menegang sudah lubang kemaluannya menjepit batang kemaluanku dan terasa kepala batang kemaluanku disiram sama air surganya, membuatku tidak kuat lagi memuntahkan… “Crot… crot… cret…” banyak juga air maniku muncrat di dalam lubang kemaluannya.
“Aakh…” aku lemas habis, aku tergeletak di sampingnya.
Dengan lembut dia cium bibirku, “Kamu menyesal Ian?” tanyanya.
“Ah nggak, kitakan sama-sama mau.”
Kami cepat-cepat berberes-beres supaya tidak ada kecurigaan, dan sejak kejadian itu aku sering bermain cinta dengan Ibu Vivien hal ini tentu saja kami lakukan jika di rumah sedang sepi, atau di tempat penginapan apabila kami sudah sedang kebelet dan di rumah sedang ramai. sejak kejadian itu pada diri kami berdua mulai bersemi benih-benih cinta, dan kini Ibu Vivien menjadi pacar gelapku.
TAMAT

Si Cantik Elvira

“Stanley… jangan jauh jauh dari cie cie”, aku setengah berteriak mengingatkan Stanley yang terus berlari ke arah lain dari tempat duduk kami di kereta api. Aku terpaksa mengejarnya, kuatir kalau ada apa apa dengan sepupu kecilku itu. Keluargaku dan keluarga Suk Sing sudah terlelap ketika tadi Stanley membangunkanku minta ditemani ke toilet.
Ketika selesai, aku masuk ke toilet sebentar untuk mencuci muka, dan waktu aku keluar, aku melihat Stanley berlari ke arah gerbong yang salah dan begitu cepat menghilang dari pandanganku, memaksaku untuk berlari lebih cepat. Seorang pedagang asongan nyaris kutabrak ketika aku berlari memasuki gerbong kelas ekonomi, tempat yang sangat sangat asing bagiku.

“Non.. hati hati, kalo gue jatuh gimana?”, pedagang asongan itu mengingatkanku. “Maaf pak, saya buru buru, mencari sepupu saya”, aku meminta maaf dengan sopan, lalu segera melanjutkan mencari Stanley. Beberapa gerbong kulalui, sampai akhirnya aku tertegun saat menemukan seorang wanita cantik yang ternyata adalah Cie Elvira!
Bukan karena menemukan Cie Elvira duduk di gerbong kelas ekonomi seperti ini yang membuatku tertegun, tapi pandangan Cie Elvira yang dingin menusuk terhadapku, murid kesayangannya di sekolah balet. Cie Elvira benar benar terlihat lain, seolah ini adalah sisi lain dari dirinya yang biasanya lembut dan harusnya menyayangiku seperti adiknya sendiri.
“Cie… Cie Vira juga ke Jakarta?” tanyaku berusaha memecah kekakuan yang tak wajar ini. Tiba tiba aku merasa ada sebuah tangan yang menyusup dari bawah rokku dan meraba selangkanganku. Belum sempat aku menoleh untuk melihat siapa pelaku kekurang ajaran ini, kedua tanganku sudah terentang, kedua pergelangan tanganku yang mungil dicengkeram erat oleh dua orang penumpang yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
Ketika kedua payudaraku diremas oleh beberapa tangan, aku mulai meronta panik menyadari keadaanku yang sudah dalam bahaya ini, sambil berusaha meminta tolong. “Cie Vira.. tolong Liza cie…”, aku memohon pertolongan, tentu saja kepada Cie Elvira, satu satunya orang yang kukenal di gerbong ini. Tapi benar benar aneh, ia hanya mematung, sebuah senyuman sinis terukir di wajahnya.
“Kalian buka roknya. Amoy sok cantik ini pasti memakai g-string. Aku sudah tau kalau dia ini amoy penggoda. Wajahnya saja kelihatan kalem dan baik baik seperti malaikat, tapi di sekolah kerjanya ngeseks dengan satpam dan tukang sapu. Paling di rumah juga ngeseks sama sopir dan kacung kacungnya”, kata cie Elvira dengan jahatnya.
“Cie..?”, kata kata cie Vira tadi membuat aku memandangnya pilu tak percaya, tanpa mampu membantah apa apa karena memang begitulah kenyataanya. Yang membuatku heran, darimana Cie Elvira bisa tahu semua itu? Lamunanku terputus ketika Cie Elvira dengan kejam melanjutkan kata katanya, “Lepaskan roknya. Kalau ternyata memang dia pake g-string, kalian langsung gilir dia ramai ramai di gerbong ini, keroyok juga boleh”.
Celaka.. aku tak tahu apakah aku mengenakan g-string atau tidak. Aku sudah akan menjerit, ketika orang yang melorotkan rokku ke bawah berkata, “Teriak saja lo, amoy cantik. Gak usah lu teriak juga kami pasti panggil orang orang di gerbong tetangga, berbagi kesempatan mencicipi tubuh non amoy yang putih mulus ini”. Aku sadar, tak ada gunanya lagi aku berteriak ataupun meronta.
Maka aku hanya pasrah saja ketika mereka semua bersuit mengagumi keindahan selangkanganku yang memang terlapis g-string. Kaus tanpa lengan yang kukenakan ditarik dari berbagai arah hingga robek tercabik cabik. Kini aku hanya tinggal mengenakan bra tipis transparan dan g-string, dan mereka terlihat jelas sudah begitu bernafsu untuk melahap tubuhku ramai ramai.
“Betul kan? Dasar lonte. Dia kegatelan main seks sampai gak bisa bangun lagi, makanya pakai pakaian dalam yang menggoda kaum lelaki. Ya sudah, kalian perkosa saja perek ini habis habisan”, perintah cie Elvira dengan tanpa perasaan. Baru kali ini aku disebut lonte dan perek, dan itu dilakukan oleh orang yang aku kagumi, tanpa sadar aku menitikkan air mata, perasaaanku amat terluka.
Aku sudah tak bisa bereaksi apapun ketika braku yang transparan terbuat bahan yang tak mudah robek itu direnggut paksa hingga tali talinya putus, sementara g-stringku dengan mudah ditarik putus hingga kini aku sudah tersaji polos di tengah kerumunan orang orang dari berbagai kalangan, sebagai budak seks mereka.
Sebuah tikar milik seorang pengemis yang tak terlihat tua, dibeber di lantai gerbong ini, lalu pengemis yang sudah melepas celananya hingga telanjang di bagian bawah itu tidur di tikar itu dengan penis yang sudah mengacung tegak. Beberapa orang memondongku dan mengangkat kedua pahaku ke samping kanan kiri, lalu membimbing tubuhku menindih pengemis itu, dan vaginaku mulai menelan penis yang lumayan besar itu.
“Aduuh… sakiiit…”, aku mengerang, tubuhku menggeliat tapi mereka menekan tubuhku ke bawah hingga penis itu tertelan seluruhnya oleh vaginaku. Rasanya sakit sekali karena selain belum adanya pelumas sedikitpun di liang vaginaku, proses penetrasi ini berlangsung begitu cepat. Kedua payudaraku langsung diremas oleh pengemis itu dengan kasar, hingga aku menggeliat kesakitan.
Aku hanya bisa pasrah, perkosaan masal yang akan meluluh lantakkan tubuh mungilku ini sudah dimulai. Pedagang asongan tadi sudah membuka celananya, lalu menyodorkan ke mulutku. “Isep non amoy. Jangan coba coba menggigit, tahu sendiri akibatnya”, perintahnya penuh ancaman. Aku tahu aku harus menurutinya, daripada ia nanti melukaiku.
Kuhisap penis yang bau itu, mungkin pemiliknya tak mandi berhari hari, membuatku hampir muntah, tapi kutahan sekuatnya. Selagi aku disibukkan 2 penis yang sudah memasuki tubuhku, dua orang mengangkat tanganku, lalu memaksaku menggenggam dan mengocok penis mereka. Aku menuruti semuanya tanpa membantah, walaupun air mataku terus mengalir.
Hatiku amat pedih merasakan penghinaan ini, diperkosa ramai ramai di depan umum. Kurasakan ikat rambutku ditarik hingga rambutku tergerai bebas, tapi rambutku langsung ditarik oleh seseorang dari belakang, rupanya ia menggunakan rambutku untuk melibat penisnya, dan bermasturbasi. Aku benar benar tak berdaya, dijadikan obyek pemuas nafsu seks mereka semua.
“Nikmat ya, Liza? Kamu memang perek bermuka malaikat. Nggak heran banyak cowok yang mengejarmu, tapi mereka nggak tahu kalau kamu itu sebenarnya cewek bispak”, kata cie Elvira sinis ketika aku mulai merintih. Aku menangis tanpa suara mendapatkan hinaan demi hinaan dari cie Elvira yang entah kenapa begitu memusuhiku kali ini. Air mataku mengalir membasahi pipiku.
Penis yang ada di mulutku mulai berkedut, menyemburkan sperma yang kali ini bagiku tak terasa enak, malah memualkan. Tapi aku berusaha menelan semuanya, daripada nanti aku mendapat perlakuan yang lebih kasar oleh mereka. Penis itu kukulum dalam dalam, batang penis yang mulai loyo itu kusedot dan kujilat memutar, membersihkan sperma yang masih tertinggal.
“Ooohhh. non amoy yang doyan peju! Semangat amat menelan pejuku. Kalau begitu kalian semua lebih baik keluarkan peju kalian di dalam mulut non amoy ini. oooh.. enaaak…”, ia mengerang keenakan setelah selesai menghinaku, karena aku yang sudah tak perduli lagi terus menghisap dan mengulum penis itu sampai bersih.
Yang lain tertawa tawa, dan pedangang asongan yang kurang ajar ini memberikan giliran pada yang lain, menggantikan penisnya yang sudah loyo. Kembali mulutku dijejali penis yang rasanya tak karuan, sementara kurasakan leher belakangku basah. Ternyata orang yang bermasturbasi di belakangku dengan menggunakan rambutku sudah ejakulasi, semprotan spermanya entah berapa banyak membasahi rambutku.
Tiba tiba dua penis yang kukocok dengan tangan itu juga berkedut, kemudian menyemprot tanpa terkendali membasahi wajahku. Kedua mataku terkena semprotan itu, hingga mau tak mau aku harus memejamkan mata. Aku sudah tak tahu lagi, apa yang terjadi denganku. Bergantian mereka memuaskan nafsu mereka dengan pelayananku, satu ejakulasi langsung digantikan oleh yang lain.
Wajahku sudah belepotan sperma, sementara rambutku sudah basah seperti keramas dengan sperma juga. Keadaan tubuhku tak lebih baik, entah berapa banyak sperma yang sudah kutelan, dan kurasakan kedua payudaraku juga basah, entah oleh semprotan sperma langsung atau terkena tetesan sperma yang mengalir dari wajahku.
Kurasakan penis dari pengemis yang menggenjot vaginaku dari bawah berkedut, membuatku sadar. Kini aku sedang dalam masa subur, dan aku tak ingat kapan aku terakhir minum obat anti hamilku. Dalam kengerian yang amat sangat, aku meronta berusaha melepaskan diriku sebelum sperma pemerkosaku ini keluar di dalam rahimku.
“Jangaaan… jangan di dalaaaam…. Aku tak mau hamiiil…”, teriakku begitu mulutku terlepas dari penis yang menyumbat erangan maupun suaraku sejak tadi. “Tahan tubuhnya! Jangan biarkan lonte ini melepaskan diri. Biar saja lonte ini hamil, supaya tak terus terusan merusak rumah tangga orang! Ini bayaran untuk ulahmu yang sudah memikat suamiku”, seru cie Elvira dengan jahatnya.
Semua membantu menekan tubuhku hingga penis itu tak mungkin kulepaskan dari vaginaku, dan ketika kurasakan semburan cairan hangat di liang vaginaku, aku menjerit pilu, “Cie Vira jahaaaat… apa salah Lizaaa…. Liza nggak pernah menggoda suami cie Viraaa….”. Tak kuasa menahan gejolak emosi ini, aku pingsan tak ingat apa apa lagi.
Entah berapa lama aku pingsan, sampai aku sadar dan mendapati diriku ada di kamar tidurku, mataku basah oleh air mata. Aku berusaha mengingat ingat, apa saja yang sudah terjadi pada diriku. Perlahan aku mulai sadar, hari ini adalah hari minggu, dan kemarin itu aku pulang jam 8 malam, lalu bercengkrama dengan keluarga. Baru aku mengerti, jadi tadi semua itu adalah mimpi buruk.
Sungguh mimpi yang aneh, makanya aku bingung, sejak kapan aku punya g-string? Juga, sejak kapan aku menggoda suami cie Elviira?? Aku memeriksa vaginaku, dan mendapati vaginaku begitu basahnya oleh cairan cintaku sendiri. Dengan panik aku mengorek vaginaku sendiri untuk memeriksa apakah ada sperma di dalamnya, karena kalau ada kan berarti gawat. Masa aku harus mengandung anak dari para pembantu atau sopirku?
Satu-satunya hal dari mimpiku yang merupakan kenyataan adalah aku sedang dalam masa subur sekarang ini dan aku lupa minum obat anti hamilku. Kalau sampai 2 pembantuku main gila seperti biasanya, membangunkanku dengan cara menyetubuhiku, aku kan bisa hamil? Untungnya aku tak menemukan adanya tanda tanda sperma di dalam liang vaginaku.
Jariku yang basah kukulum sambil menghela nafas lega, aku baru teringat ada kedua ortuku di rumah. Para pembantuku itu tentu saja tak akan berani sembarangan. Sudah sejak kepulanganku dari villa 2 minggu lalu, mereka tak bisa seenaknya minta jatah padaku. Kesempatan mereka mendapat pelayananku hanya saat aku di rumah sepulang dari sekolah, sampai kedua ortuku pulang dari rutinitas sehari hari menjaga toko.
Itu berarti antara jam setengah dua siang sampai jam setengah enam sore. Dan waaktu 4 jam ini bisa berkurang kalau aku sedang les privat bahasa Inggris dengan cie Stefanny di rumah, atau jika aku pulang telat karena mengikuti extra kurikuler bulu tangkis. Tentu saja mereka juga memperhitungkan, kokoku ada di rumah atau tidak, walau kadang mereka melakukan sembunyi sembunyi saat ada kesempatan, biasanya pagi hari di garasi saat aku akan berangkat ke sekolah.
Tapi yang jelas sudah 2 minggu ini aku tidak pernah terbangun dengan vaginaku dalam keadaan tertancap penis penis para pembantu dan sopirku ini. Aku melihat jam, masih jam 5:15 pagi. Karena sudah sekolah pagi, aku terbiasa bangun jam segitu. Maka aku ke kamar mandi yang ada di dalam kamarku ini. Menyikat gigi, mandi sesegar segarnya, dan mencuci muka, membuat batinku lebih tenang setelah mengalami mimpi yang begitu mengerikan tadi.
Aku merapikan rambutku, dan tak lupa minum obat anti hamil sebelum turun ke bawah. Di masa suburku ini, aku merasa obat anti hamil harus kuminum tiap hari, daripada nanti aku kebobolan saat sedang sial. Berjaga jaga lebih baik daripada semuanya sudah terlambat, apalagi tadi aku mimpi buruk seperti itu.
Di bawah, aku menemukan mamaku yang sedang menyiapkan makan pagi di dapur. Aku menyapa mamaku yang tersenyum padaku, dan membantunya sebisaku. Rupanya mamaku memasak sup jagung, kesukaanku. Sambil membantu mamaku aku berpikir tentang aktivitasku hari ini. Pagi ini aku akan ke ******, siangnya entah jalan jalan ke mana menemani Jenny yang ingin membeli kado ulang tahun buat teman sekelasnya waktu kelas 1 dulu, Irene.
“El, di dapur jangan melamun, nanti bisa luka kalau gak hati hati”, mamaku mengingatkanku yang masih melamunkan mimpi itu, membuatku tersadar. “o… e.. iya ma”, kataku. Aku segera menyibukkan diri, hingga sesaat aku bisa melupakan mimpi yang menyeramkan itu. banyak sekali jagung yang aku ambil bijinya, capai juga tanganku melakukannya. Tapi aku terus membantu mamaku dengan tulus. Jam enam pagi, semua sudah selesai, sup jagung kesukaanku sudah terhidang di meja makan.
Senang sekali rasanya, setelah mencuci tanganku sampai bersih, aku lalu ke atas sebentar membangunkan kokoku yang pasti masih mendengkur. Usilku kambuh, aku mengambil gulingnya yang jatuh, lalu memukulkan ke tubuh kokoku yang masih tertidur pulas, hingga kokoku terbangun kaget, dan menggeram “Elizaa.. sudah gila ya, bangunin aku kayak gini?”.
“Ko, nggak siap siap kuliah ya? Sudah jam 6 lebih nih!”, kataku. Kokoku segera meloncat bangun, pergi ke kamar mandi sambil berkata, “wah.. untung koko kamu bangunkan. Thanks me. Tapi awas ya, pukulan dengan guling tadi itu pasti kubalas”, seperti biasa, sok mengancam untuk membalas. Mana tega dia pada adiknya yang cantik ini? pikirku sambil meleletkan lidah.
“Makan pagi sudah siap ko, nanti langsung turun ya”, kataku meninggalkan kokoku ke bawah. “IYA”, seru kokoku yang sudah ada di dalam kamar mandi. Aku tersenyum geli, membayangkan bagaimana jengkelnya nanti kokoku kalau sadar hari ini hari minggu. Aku menyapa papaku yang sudah rapi, kami sempat mengobrol sebentar menunggu kokoku turun untuk makan bersama.
Akhirnya kokoku turun dengan membawa tas kuliahnya, membuatku mati matian menahan tawa. “Minggu pagi gini mau belajar buat UAS di rumah teman ya Heng? Ke ****** dulu ya… masih sempat kan?” tanya papaku. Kokoku melongo, kemudian melihat kalender. Ketika kokoku memandangku dengan gemas, tawaku pun meledak, dan ortu kami yang menyadari bahwa kokoku tertipu olehku juga tertawa.
“Heng.. Heng.. sudah berapa kali masih juga tertipu sama mememu ini. Kamu memang kalah pintar kok sama mememu ya”, ejek mama yang disambung papa, “Masa sudah kuliah kalah canggih sama adikmu yang masih SMA ini?”, membuat tawaku makin meledak. Kokoku hanya bisa diam memandangku dengan gemas dan terlihat menahan senyum kesal, dia pasti tak ingin lebih malu lagi kalau sampai tertawa, karena itu sama saja dengan menertawakan dirinya sendiri.
Kami kemudian makan bersama, dan seperti biasa kami pergi ke ****** pagi pagi. Papa dan mama duduk di belakang, aku di depan dan kokoku yang menyetir. Aku kembali teringat mimpi tadi. Masa iya aku ini pernah menggoda suami cie Elvira? Kami memang pernah bertemu, tapi rasanya kami cuma saling sapa, bahkan aku tak pernah ingat kalau kami pernah terlibat dalam pembicaraan sedikitpun. Ah.. ada ada saja. Mimpi yang aneh sekali.
Aku memutuskan tak memikirkannya lagi, dan menjalani kegiatan hari ini seperti biasa. Setelah pulang dari ******, aku segera menyiapkan apa saja yang diperlukan untuk latihan baletku nanti dan membawa ke mobilku, karena aku pikir akan langsung ke tempat lathihan setelah menemani Jenny mencari kado.
Setelah berpamitan pada papa mama dan kokoku, aku segera turun ke garasi. Di sana, sudah menunggu pak Arifin, Wawan dan Suwito yang membuat jantungku agak berdegup kencang. Tanpa basa basi, mereka bertiga bergantian melumat bibirku dan seperti biasa, Sulikah berjaga kalau kalau keluargaku ada yang sedang menuju garasi.
Aku hanya bisa membalas lumatan mereka, supaya ini semua cepat selesai. Tubuhku digerayangi dan payudaraku diremas remas, kadang vaginaku ditekan tekan oleh jari mereka. Gairahku mulai naik dan aku melenguh pelan, rok yang kukenakan sudah terangkat sampai ke pinggangku, celana dalamku sudah melorot sampai ke paha. Vaginaku yang sudah basah oleh cairan cintaku sendiri dikorek korek oleh mereka.
Beberapa jari tangan mengaduk aduk vaginaku membuat aku dengan cepat sudah orgasme hebat. Kuatir aku melenguh tak terkendali, kupagut salah satu bibir dari mereka yang mengerubutiku ini. Tubuhku mengejang keenakan dan akhirnya lunglai dengan kedua tanganku melingkar di leher pak Arifin di sebelah kiriku dan Suwito di sebelah kananku.
Untungnya mereka tak bermaksud hendak menyetubuhiku, hanya ingin membuatku orgasme habis habisan seperti ini sebelum aku pergi. Aku kehabisan nafas dan tersengal sengal. Mereka memakaikan celana dalamku kembali ke tempat yang benar, barulah mereka membiarkanku, anak majikan mereka yang sudah menjadi budak seks mereka ini, masuk ke mobilku, tentu saja setelah semua mendapat giliran melumat bibirku dan meremasi payudaraku.
Tubuhku rasanya lemas sekali, dan aku masuk ke mobilku, dan duduk sebentar untuk menenangkan diriku yang masih dihantam gelombang orgasme yang dahsyat, sampai akhirnya aku mampu berpikir dengan tenang. Di dalam mobil, aku melihat dari kaca tengah, bajuku awut awutan, rambutku juga kacau karena tadi dibelai dan dimainkan dengan seenaknya oleh mereka, juga dihirup hirup baunya oleh mereka bergantian.
Entahlah, rasanya tiap bagian dari tubuhku ini bagi mereka begitu menggairahkan untuk dinikmati kali ya? Kurapikan rambutku sebentar, juga sekalian bajuku yang kancingnya nyaris terlepas semua ini. Bahkan aku perlu membetulkan posisi bra yang menyangga payudaraku ini, letaknya sudah kacau dan amburadul akibat remasan remasan penuh nafsu tadi oleh mereka.
Dengan kesal bercampur birahi yang tinggi aku menatap mereka bertiga, namun aku tak bisa apa apa selain cepat cepat meninggalkan mereka. Di jalan, aku berusaha untuk berkonsentrasi penuh setelah barusan tadi dirangsang habis habisan sampai orgasme oleh sopirku dan dua pembantuku yang keranjingan itu. Butuh waktu lama sampai gairahku stabil dan menurun.
Sesampainya di rumah Jenny, aku melihat ternyata Jenny sudah menungguku, maka kami segera berpamitan pada kedua orang tua Jenny. “Enaknya cari kado di mana Jen?”, tanyaku pada Jenny, yang setelah beberapa saat berpikir, menjawab, “Ke Tunjungan Plaza aja yah?”. Aku mengangguk dan segera menjalankan mobil ke arah sana. Dalam perjalanan, aku dan Jenny saling bertukar pengalaman pribadi kami selama liburan.
“Jen, gimana kamu selama liburan? Liburan kemana? Apa mereka masih terus melakukan itu?” tanyaku beberapa saat setelah kami mengobrol dan bercanda. Jenny terlihat merenung. “Aku di akhir tahun memang berlibur bersama ortu ke vila kami di Trawas, tapi sebelumnya itu El, setiap ada kesempatan aku harus melayani mereka berlima. Begitu ortuku pergi, aku harus siap diseret ke ruang kerja mereka, melayani mereka sampai mereka semua puas”, kata Jenny sambil sesekali menghela nafas.
“Aku pernah mencoba ikut ortuku pergi, tapi aku mendapat ancaman keras dari mereka. Baiknya, ada 3 orang dari mereka yang pulang kampung, tapi yang tersisa justru Supri dan Umar, ingat kan kamu El gimana ukuran barang mereka berdua itu?”, Jenny menggeleng gelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang mengakhiri ceritanya.
“Aduh.. kamu nggak apa apa kan Jen?”, tanyaku kuatir. Dua orang itu, tentu saja aku tahu betul ukuran barangnya. Tapi Jenny hanya mengangkat bahu dan berkata, “gimana ya.. sudah biasa sih, sakit sakit enak gitu. Terus, liburanmu gimana El? Apa kamu juga terus dikerjain sama sopir dan pembantumu itu?”. Aku mengangguk dan menceritakan semua pengalamanku, termasuk insiden dengan penjaga vila yang menghasilkan kenangan baru di villaku itu.
Jenny menggeleng gelengkan kepalanya, “Ya ampun… penjaga vilamu yang tua itu Jen? Memangnya dia masih kuat gituan?”. Aku dengan tersipu malu menjelaskan, “Awalnya sih pak Basyir itu gak seberapa juga ya, tapi.. malam itu dia pakai obat kuat Jen. Jadinya aku ya tak tahan juga, orgasme abis deh dibuatnya. Ada hampir satu setengah jam aku disetubuhinya habis habisan”.
Tentu saja aku tak menceritakan pada Jenny, betapa aku dipermainkan pak Basyir sampai memohon mohon untuk dibuat orgasme, apalagi saat pulang aku malah tidak memakai celana dalam sejak selesai mandi pagi, bersiap memenuhi keinginan pak Basyir untuk menikmati tubuhku sebelum aku balik ke Surabaya.
Jenny lalu berkata, “Kurang ajar banget yah tua bangka itu. Ya udah deh El, jangan ngomongin ini lagi ah. Sebel deh, nasib kita benar benar buruk. Kok kita jadi sama dengan Vera, cewek bispak di sekul kita. Oh iya, nanti sebaiknya beli apa ya buat kado?”. Aku tak punya ide, dan menjawab, “Ya coba nanti kita lihat lihat di sana gimana? Pasti bisa ketemu yang bagus”. Jenny tersenyum dan mengangguk.
“Jen, Vera yang kamu maksud tadi, Vera yang sekarang sekelas dengan kita?”, tanyaku hati hati. “Iya lah El. Aku sudah tau kelakuannya sejak kami sekelas di kelas 1. Vera itu suka pulang bareng om om, dan sudah 5 om yang berbeda yang aku tahu. Tapi.. sudalah.. kini rasanya kita nggak lebih baik deh dari dia”, Jenny menghela nafas panjang dan menunduk, kurasakan kesedihannya yang mendalam, membuatku ikut sedih juga.
Sambil melajukan mobil, aku sempat berpikir tentang Vera. Kebetulan Vera itu satu sekolah balet denganku, tapi aku nggak pernah menyangka Vera seperti itu. Tak terasa kami sudah sampai di Tunjungan Plaza, dan kami segera berburu barang yang tepat buat kado dan kami menemukan barang yang dirasa tepat, yaitu bando. Setelah membeli kertas kado juga, kami menyempatkan makan siang di food court, sambil ngobrol ke sana kemari termasuk menggosip ^^ seperti yang sering kami lakukan.
Jenny membungkus bando itu dengan kertas kado saat kami selesai makan, dan kami sempat berjalan jalan sebentar, ketika berpapasan dengan cie Stefanny. Aku terkejut melihat penampilan cie Stefanny yang tidak seperti biasanya, ia terlihat sexy abis. “Cie? Duh… cie cie.. tumben deh”, sapaku pada guru lesku ini. Cie Stefanny tersenyum manis sekali membalas sapaanku. Aku mengenalkan cie Stefanny pada Jenny yang memandangnya dengan kagum, hari itu memang cie Stefanny begitu modis.
Tubuhnya dibalut sweater putih, dan bajunya hitamnya begitu sexy, memperlihatkan belahan dadanya. Rok hitam ketat yang hanya sampai setengah paha, memperlihatkan paha dan betisnya yang indah. Kacamata yang biasanya dipakai juga diganti softlens yang berwarna kebiruan, membuat cie Stefanny tampak sempurna, beda sekali dengan penampilannya yang selalu biasa biasa saat datang ke rumahku sebagai guru les privatku.
“Jen, ini cie Stefanny, guru les inggrisku yang sering kuceritakan. Cakep kan Jen? Dan ini cie, temenku namanya Jenny”, aku saling memperkenalkan mereka. “Ah kamu itu ada ada saja El. Hai Jenny, namaku Stefanny, guru les Inggris Eliza”, cie Stefanny tersipu saat bersalaman dengan Jenny. “Hai cie Stefanny, aku Jenny, teman sekelas Eliza. Wah cie Stefanny memang cantik abis deh”, kata Jenny. Mendapat pujian Jenny, cie Stefanny makin tersipu.
Kami sempat berbasa basi sebentar, dan cie Stefanny berkata, “Udah dulu ya, cie cie mau pulang dulu”. Aku sempat bertanya, “Nggak sama ko Melvin nih cie?”. Aku sempat merasa senyuman cie Stefanny itu terlihat getir, saat cie Stefanny menjawab, “Nggak, sendirian aja kok. Udah dulu ya, bye bye”. Kami berpisah, dan Jenny berkata padaku, “Wow… guru lesmu keren deh. Aku mau dong les sama dia. Coba besok Senin kamu omongkan ya El, cie Stefanny ada waktu nggak ngelesi aku”.
Aku mengiyakan, “Jen, kamu pasti nggak rugi deh les sama dia. Orangnya pinter kok”. Setelah itu, aku mengantar Jenny ke rumah Sherly. Karena nanti sore aku harus latihan balet, selain itu memang aku nggak kenal sama Irene, jadi Jenny nanti pergi bersama Sherly. Mereka sih sekelas waktu kelas 1. Ternyata rumah Sherly sangat besar, kamarnya juga banyak, ada sekitar 10 kamar di sana.
Kebetulan di dekat situ ada kampus swasta yang cukup terkenal, makanya ortu Sherly menjadikan rumah itu sebagai tempat kost buat mahasiswi yang kuliah di kampus itu. Kami duduk di sofa ruang tengah. Jenny memperkenalkan aku pada Sherly. “El, ini Sherly, bosnya kost kostan ini, hehehe aduh…”, Jenny dipukul oleh Sherly yang memasang muka cemberut.
Tak butuh waktu lama, kami jadi akrab, Sherly ternyata orangnya menyenangkan. Kami membicarakan berbagai hal termasuk tentang sekolah, dan mulai menggosip tentang beberapa hal di sekolah kami. Tiba tiba aku melihat pintu kamar yang ada di arah depanku terbuka. Hah? Ada 2 orang laki laki yang keluar dari kamar itu. Bukannya di sini itu tempat kost buat mahasiswi aja? Tapi, 2 orang tadi itu lebih mirip pembantu deh daripada mahasiswa.
Dan yang membuatku semakin terkejut, tak lama kemudian keluar seorang cewek, kelihatannya seumur dengan cie Stefanny. Rambut panjangnya terlihat kusut, seperti juga bajunya. Sinar matanya yang sayu itu… mirip orang yang baru orgasme habis habisan.
Keringat yang membasahi tubuhnya makin memperkuat dugaanku… “El, kenapa?”, tanya Jenny padaku. Aku agak tergagap, dan berkata pelan pada Jenny, “Jen, aneh ya, masa dari tadi kita di sini, tahu tahu 2 orang pembantu tadi keluar dari kamar tuh cewek. Terus, nggak lama cewek itu juga keluar”.
Jenny melihat ke cewek itu, lalu bertanya pada Sherly, “Iya Sher, tadi kira kira kenapa ya kok dua pembantu itu lama di dalam?”. Sherly mengangkat bahu dan berkata, “Mungkin bantu bantu angkat barang?”. Jenny bertanya lagi, “Dan lagi, cewek itu bajunya kusut abis ya?”.
Sherly terlihat kikuk, dan menjawab, “Oh. Cie cie itu namanya Katherine. Tadi sih cie Katherine bilang agak pusing dan mau tidur siang. Mungkin baru bangun tidur kali ya kusut gitu. Tapi lihat, biar kusut gitu, masih terlihat cantik yah”
Aku dan Jenny saling pandang. Tak bisa kami pungkiri, cie Katherine yang tadi itu memang cantik dan pasti menggairahkan sekali bagi para lelaki. Rambutnya lurus panjang, tubuhnya mungil, ramping ideal, bentuk payudaranya sexy. Ketika melihat kami yang memandanginya, cie Katherine tersenyum pada kami semua, senyumnya begitu manis, hingga kami pun mau tak mau balas tersenyum padanya.
Setelah itu kami sempat ngobrol ke sana kemari, dan tak terasa jam menunjuk pukul 4 sore. Mau pulang juga nanggung, aku memilih langsung menuju ke sekolah baletku. Maksudku nanti di sana aku akan menunggu di mobil atau gimana, daripada pulang ke rumah malah dibikin orgasme oleh para pembantu dan sopirku yang sudah keranjingan itu.
Selain itu, aku merasa lebih baik menghemat bensin kali ya, maka aku pamit pada mereka. “Sherly, Jen, aku mau berangkat dulu ke sekolah balet, have a good time ya”, kataku pada mereka. Sherly dan Jenny mengantarku ke pintu gerbang, dan waktu menuju ke sana aku sempat melihat ada seorang cewek di beranda rumah ini, yang terlihat agak terloncat seperti terkejut.
Kulihat di belakang cewek itu ada seseorang, yang mungkin juga pembantu di rumah ini. Aku melihat cewek itu membalik badan, sepertinya marah pada orang itu, yang hanya cengengesan saja. Aku berpikir, mungkin saja tadi itu orang itu meremas pantat cewek itu, tapi nggak tau juga sih.
Aku merasa tempat ini semakin aneh di mataku, tapi bukan urusanku kali ya. Aku terus berlalu menuju mobilku, dan setelah melambaikan tangan pada Jenny dan Sherly, aku segera melajukan mobilku ke arah sekolah baletku. Sampai di sana, aku parkirkan mobilku, lalu duduk diam sambil menyetel musik. Tiba tiba hp-ku berbunyi, aku lihat nomer HP-nya Jenny.
Aku sudah akan mengangkat HP-ku itu, ketika aku melihat cie Elvira turun dari mobilnya, dan masuk ke dalam sekolah baletku. Cepat amat ya cie Elvira kok sudah datang, sekarang masih jam 4:25 tuh. “Halo? Eliza.. tolong dong liatin, ada gak jam tanganku di mobilmu?”. Aku menoleh ke tempat duduk di sampingku, dan karena tak kutemukan, aku mencari ke jok bawah, dan ketemu.
“Iya Jen, ada di sini. Kok jatuh ke bawah gitu Jen?”, tanyaku. “Iya nih, tadi aku lepas bentar, soalnya keringatan. Ya udah, tolong besok kamu bawain ke sekolah ya El”, kata Jenny. “Iya beres. Udah ya”, kataku. “Iya El.. thanks”, suara Jenny yang riang menutup pembicaraan kami. Pandanganku tertuju pada batagor yang dijual di sebuah rombong.
Senang deh, aku ke sana, membeli sebungkus, dan kembali ke dalam mobil. Aku makan dengan santai, menghabiskan waktu. Selesai makan pun, jam baru menunjuk pukul 16:40. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam ruang latihan balet untuk ngobrol dengan cie Elvira yang selalu ramah dan sayang kepadaku sekalian menghapus ingatanku tentang kekejaman cie Elvira di dalam mimpi tadi.
Di dalam, aku mencari cie Elvira yang sudah masuk sejak tadi. Ada suara derit kursi panjang di belakang panggung, dan aku langsung menuju ke sana. Dan jantungku hampir berhenti ketika aku melihat cie Elvira, digenjot oleh pak Agil. Cie Elvira terlihat pasrah, tubuhnya yang telanjang bulat tersentak sentak di atas kursi panjang tempat biasa kami duduk duduk, sedangkan pak Agil hanya mengenakan baju atasan.
Aku bisa melihat jelas, vagina cie Elvira yang mungil diterobos penisnya pak Agil yang kelihatan agak besar dan berurat, dan desahan pelan yang sexy dari cie Elvira sesekali terdengar, membuatku panas dingin melihatnya. Cie Elvira sama sekali tak terlihat diperkosa, bahkan dengan penuh penyerahan cie Elvira melayani setiap tusukan pak Agil dengan sedikit mengangkat pinggulnya.
Oh iya, pak Agil ini, tukang sapu di sekolah baletku ini. Pak Agil ini orangnya agak gemuk, kumisnya tipis dan bibirnya itu.. tebal amat. Umur orang ini kira kira 45 tahun. Aku memang sempat merasa aneh, karena pak Agil suka berlama lama memandangi cie Elvira, dan kini aku melihat dia sedang menggenjot cie Elvira dengan bernafsu, sementara cie Elvira sendiri kelihatannya pasrah saja diperlakukan seperti itu.
Cie Elvira sendiri kini berumur 27 tahun. Tubuhnya langsing ideal, rambutnya agak bergelombang dihighlight kuning membuatnya tampak semakin cantik. Kulitnya putih mulus, seputih kulitku. Payudaranya kencang dan indah. dan kini kulihat cie Elvira melenguh keenakan. “enggghh… aduuuh… aaaah…”, cie Elvira menggelepar hingga derit kursi itu makin keras.
Rupanya cie Elvira sudah orgasme, dan beberapa saat kemudian giliran pak Agil yang orgasme. Ia menggeram dan tubuhnya bergetar, kulihat cairan putih kental menggelayut di penisnya yang ditarik keluar. Saat itulah cie Elvira melihatku, ia begitu terkejut dan gugup. “Eliza..?”, desis cie Elvira.
Pak Agil yang posisinya membelakangiku menoleh menghadapku, tapi pak Agil kelihatan cuek, dan dengan tenang ia memakai celana panjangnya, lalu ia melewatiku yang masih terpaku. Dengan kurang ajar pak Agil meremas payudara kiriku, kasar dan menyakitkan, membuatku tersadar dan mengaduh, “Ah… aduuh… sakit paak!”.
Pak Agil melepas remasannya ketika cie Elvira membentak, “Gil, jangan kurang ajar ya sama Eliza!”. Ia pun berlalu sambil cengengesan. Aku memegangi payudara kiriku yang masih terasa sakit. Cie Elvira membelakangiku, ia membersihkan vaginanya dan mengenakan pakaian dalamnya, lalu berganti baju balet.
Aku merasa canggung, dan memilih masuk ke kamar ganti, lalu berganti pakaian balet di sana. Ketika aku keluar, cie Elvira masih duduk di kursi panjang itu dengan sudah mengenakan kostum baletnya, dan aku tak berani mendekatinya. Aku memilih menunggu di panggung tempat latihan.
Jam menunjuk pukul 4:50, ketika teman temanku satu per satu datang, kebanyakan sudah memakai kostum baletnya, tinggal melepas baju luar saja. Dan latihan pun dimulai seperti biasa, tapi ketika cie Elvira mengajarkan gerakan baru, tentu saja di antara kami ada yang melakukan kesalahan. Dan tak seperti biasanya, kali ini Cie Elvira mudah marah.
Dalam sebuah gerakan yang memang cukup sulit, ia malah agak membentak temanku Vera, yang beberapa kali melakukan kesalahan. Suasana jadi tegang dan tidak enak, kami semua agak gugup menjalani latihan ini. “Sudah, dari tadi kalian salah terus. Lebih baik latihan kita akhiri saja sekarang. Kalian ingat ingat tadi gerakan yang sudah cie cie ajarkan, minggu depan harus lebih baik!”, kata cie Elvira ketus, lalu ia berbalik ke ruang ganti.
Ini masih baru setengah jam, dan kami semua bingung, tapi aku mungkin mengerti kenapa cie Elvira begitu. Aku segera ke dalam, ikut berganti pakaian, dan ketika berpapasan dengan cie Elvira, aku mendekatinya. “Cie Vira mau ikut makan malam sama Eliza?”, tanyaku lembut. Cie Elvira memandangku, dan tak lama ia mengangguk.”Kalau gitu, ke restaurant Halim di Mayjen ya cie?”, tanyaku lagi.
Cie Elvira mengangguk dan menjawab, “Ya, aku tahu tempatnya. Thanks ya, Eliza”. Ia tersenyum manis, membuat aku merasa mimpiku tadi pagi itu begitu konyol, dan memutuskan untuk melupakannya saja. Mobil kami berjalan beriringan, menuju ke tempat yang tadi kami sepakati. Sampai di sana, kami memesan beberapa makanan.
Di tengah suasana yang kaku ini, cie Elvira mendadak minta maaf padaku, “Eliza, sorry ya cie cie nggak bisa ngelindungin kamu tadi. Sakit nggak tadi digituin sama Agil sialan itu?”. Aku jadi tak enak, dan menjawab, “Cie, tadi kan untung ada cie Vira. Kalau cie Vira nggak membentak pak Agil, mungkin dia sudah berbuat lebih jauh terhadap Eliza”. Cie Vira masih menunduk.
Aku mencoba menghiburnya. “Cie Vira, yang tadi itu nggak usah dipikirin, Eliza nggak akan cerita cerita ke siapa siapa kok”. Cie Elvira tersenyum penuh terima kasih padaku, kini ia sudah tidak segalau tadi. “Eliza, cie cie jadi begini, bukan karena tanpa alasan. Kamu mau dengar cerita cie cie?”, tanya cie Elvira padaku. Kontras sekali dengan akhir tahun lalu, waktu itu cie Elvira begitu mesra dengan suaminya.
“Iya cie, cerita aja, mungkin nanti beban cie cie bisa lebih ringan”, aku tersenyum dan bersiap mendengarkan curahan hati cie Elvira.
Cie Elvira menerawang dan mulai bercerita, tentang masa lalunya ketika pacaran dengan ko Johan, mereka adalah pasangan yang amat berbahagia. Tiga tahun lalu, mereka menikah dengan restu kedua orang tua mereka, dan cie Elvira ikut ko Johan yang tinggal bersama ortunya.
Setelah dua tahun menikah dan tak dikaruniai anak, mama mertua cie Elvira mulai uring uringan. Tanpa bukti yang kuat, mamanya ko Johan dengan seenaknya menuduh cie Elvira yang mandul. “Aku sudah periksa, dan hasil tes menunjukkan, aku sama sekali tidak mandul”, kata cie Elvira yang mulai menitikkan air mata. Aku bisa merasakan kepedihannya, tapi aku hanya diam tak tahu harus berkata apa.
Makanan yang kami pesan sudah datang, dan di sela waktu kami makan, cie Elvira meneruskan ceritanya. Ko Johan yang ternyata tipe anak mama, tak pernah sedikitpun membelanya, tak berani mengakui kalau dirinya yang bermasalah, mengidap impotensi ringan, terbukti dari penisnya yang tak begitu keras saat ereksi. Memang ko Johan bisa menyetubuhi cie Elvira, tapi selain penisnya yang lembek tak bisa memuaskan cie Elvira, juga keluarnya amat cepat, di bawah lima menit.
Pernah waktu cairan sperma ko Johan tumpah di perutnya usai bersetubuh di pagi hari, cie Elvira diam diam menaruh cairan itu dalam sebuah tempat dan membawa ke laboratorium siang itu juga Hasilnya ternyata ko Johan yang mandul. Ingin sekali cie Elvira mengatakan yang sebenarnya.
Tapi cie Elvira tak tega menyakiti ko Johan. Jadi ia memikul semua beban itu sendirian. Suatu hari, dalam sebuah pertengkaran mulut, mama mertuanya memaki cie Elvira dengan kejam, “Memang, kamu itu cantik, punya body yang sexy. Tapi apa guna semua itu kalau kamu nggak bisa melahirkan anak buat Johan?”.
Cie Elvira hanya bisa menangis, ia segera meninggalkan mama mertuanya, pergi ke sekolah balet kami, walaupun waktunya masih dua jam lagi. Di sana cie Elvira menangis sejadi jadinya, dan tanpa cie Elvira sadari, pak Agil mendekatinya, dan suara pak Agil mengejutkannya. “Bu Elvira, cakep cakep kok nangis?”, tanya pak Agil. Cie Elvira langsung menyusuti air matanya dengan tissue, lalu mengambil sebatang rokok dari tas.
Cie Elvira minta api pada pak Agil, yang segera mengeluarkan korek api dari sakunya, dan menyalakannya buat cie Elvira. Dengan cuek, cie Elvira merokok, diikuti pak Agil yang juga merokok. Mereka mulai terlibat obrolan ringan, sampai kemudian ketika rokok mereka sudah habis, pak Agil mengulangi pertanyaannya tadi, “Bu Elvira, tadi kenapa menangis?”.
Cie Elvira cuma diam, merasa tak ada perlunya orang macam pak Agil ini tahu urusan rumah tangganya. Tiba tiba cie Elvira terkejut ketika pak Agil membelai rambutnya, dan belum sempat cie Elvira berbuat sesuatu, pak Agil sudah mendekap tubuh cie Elvira, dan bibirnya dipagut dengan ganas. Diperlakukan seperti itu tanpa disangka sangkanya, cie Elvira hanya bisa pasrah.
Pak Agil semakin berani, satu per satu pakaian cie Elvira dilucuti, kemudian setelah melepas pakaiannya sendiri ia membaringkan cie Elvira di bangku panjang itu, dan mulai menyetubuhi cie Elvira yang tak memberikan perlawanan atau pemberontakan sedikitpun.
Cie Elvira yang sudah hanyut, merasa tak ada perlunya mempertahankan nilai kesetiaan, karena selama ini ia diperlakukan tidak adil. Cie Elvira masih mencintai ko Johan, tapi tusukan penis pak Agil yang begitu keras dibandingkan milik ko Johan, membuat cie Elvira merasa melayang dan larut dalam persetubuhan itu, tak kuasa menolak kenikmatan yang didapat dari pak Agil.
Kali pertama, cie Elviira meminta pak Agil mengeluarkan spermanya di luar. Setelah itu, setiap mengajar balet cie Elvira datang lebih pagi untuk menghindari stress akibat bertengkar dengan mama mertua. Tapi cie Elvira tahu pak Agil akan meminta jatah lagi, maka ia mulai rutin minum obat anti hamil, dan memang, pak Agil tanpa malu malu terus terusan meminta jatahnya, dan cie Elvira setengah terpaksa menurutinya.
“Begitulah, Eliza. Tiap cie cie ke sana, cie cie melayani pak Agil lebih dulu sebelum mengajar. Kamu boleh anggap cie cie murahan atau yang sejenisnya, tapi cie cie sudah tak ada jalan lain. Rasanya stress di rumah tiap hari bertengkar mulut dengan mama mertua, sementara suami tak bisa melindungi cie cie, hanya bisa diam melihat cie cie dibentak bentak mamanya”, kata cie Elvira pilu dan menunduk sedih.
“Cie, aduh… Liza ikut sedih cie. Semoga cie cie tabah ya..”, kataku yang tak tahu harus bagaimana menghibur cie Elvira. Ia memandangku dan tersenyum pahit, “Eliza, terima kasih ya. Kamu memang baik, semoga nasibmu kelak lebih baik dari cie cie”. Aku hanya bisa menunduk, merenungi nasibku yang sekarang ini sebenarnya tak lebih baik dari cie Elvira.
Tak terasa kami sudah selesai makan, dan aku memaksa cie Elvira supaya kali ini aku yang traktir. Setelah itu, kami saling berpamitan dan pulang ke rumah masing masing. Sampai rumah, sekitar jam 8 malam, aku tidak mendapati mobil kedua orang tuaku, juga mobil kokoku yang kata Sulikah pergi ke rumah temannya.
Aduh.. habis deh. Pak Arifin, Wawan dan Suwito langsung menarikku ke kamar mereka, dan aku segera jadi bulan bulanan mereka. Mereka seolah melepaskan segala kerinduan mereka padaku, setelah sekitar 2 minggu tidak mendapat kesempatan menikmati diriku.
Untung aku sudah minum obat anti hamil, maka aku hanya pasrah saat merasakan penis demi penis berkedut dalam vaginaku, menyemburkan sperma yang membasahi rahimku. Dua jam lebih aku melayani mereka, tubuhku rasanya pegal pegal karena berulang kali orgasme habis habisan. Mereka berhenti setelah dua ronde menyetubuhiku, dan tergeletak puas di sekitarku yang sudah amat lemas.
Setelah pesta seks ini selesai, aku kembali ke kamarku dengan telanjang bulat. Aku mandi membersihkan tubuhku. Setelah mengeringkan seluruh tubuhku, aku segera tidur tanpa mengenakan apapun, hanya berselimut bed cover. Rasanya nyaman sekali, dan dengan cepat aku sudah tertidur pulas.
Tak terasa, sudah seminggu waktu berlalu sejak peristiwa itu. Tak ada kejadian spesial selama seminggu ini, selain aku memberitahu pada cie Stefanny kalau Jenny berminat untuk les privat, dan mereka sudah saling kontak untuk membicarakan hal itu.
Di sekolah aku seperti biasa, bersikap cuek pada tatapan penuh nafsu dari pak Edy wali kelasku, juga pandangan mesum dari para satpam dan tukang sapu yang sudah beberapa kali menikmati tubuhku. Sebenarnya sebal juga, tapi aku tak tahu harus berbuat apa.
Tapi ada satu hal yang membuatku tertegun, aku sempat melihat Vera, temanku yang dikatakan Jenny cewek bispak di sekolah kami, sepulang dari sekolah ia dijemput om om, yang sudah pasti bukan papanya. Aku pernah melihat papanya Vera ketika acara terima raport akhir tahun lalu. Aku sempat menduga duga, apakah orang itu saudara ortunya, atau …?
Hari minggu ini, setelah menjalankan rutinitasku, dan sempat berjalan jalan dengan Jenny, aku memutuskan untuk tidak pulang dan langsung ke tempat balet. Aku merasa bisa membantu cie Elvira untuk tidak terlalu terlibat dengan pak Agil itu. Ketika jam masih menunjuk pukul 4:15 sore, aku sudah duduk duduk di teras gedung sekolah balet kami, menunggu cie Elvira.
Rencananya nanti aku akan mengajak cie Elvira ngobrol daripada cie Elvira harus melayani pak Agil itu. Tapi apa yang terjadi berikutnya sungguh di luar dugaanku. Pak Agil tiba tiba keluar dari pintu masuk, dan bertanya padaku, “Non Eliza, waktu saya bersih bersih minggu lalu, di ruang ganti ada barang yang tertinggal minggu lalu. Coba non lihat, apa itu kepunyaan non Eliza?”.
Ditanya demikian di depan orang banyak yang berjualan di depan situ, aku mau tak mau terpaksa masuk untuk melihat, daripada kesannya tidak sopan. Walaupun aku merasa tak meninggalkan barang minggu lalu, tapi andaikan memang barang itu kepunyaanku, aku tahu aku sedang masuk ke sarang penyamun. Seperti yang aku kira, di dalam ruang ganti memang tak ada apa apa.
Ketika aku membalik badan, kulihat pak Agil sudah di belakangku sejak tadi, ia tersenyum menyeringai kepadaku, dan aku tahu aku akan bernasib buruk hari ini. Di dunia ini akan segera bertambah lagi satu maniak yang menjadikan aku budak seksnya. Aku mengutuki nasibku dalam hati.
Tapi aku masih berusaha untuk lolos dari cengkeraman bandot tua ini. “Pak, saya mau keluar dulu, di sini nggak ada apa apa kok”, kataku berusaha menjaga nada bicaraku tetap sopan. “Non, buat apa keluar lagi? Enakan di sini sama bapak. Minggu lalu saya sudah merasakan susu non yang kiri, sekarang saya mau susu non yang kanan”, katanya dengan kurang ajar.
Ingin aku menamparnya, tapi bisa bisa ia makin mengasariku nanti, maka aku meredam keinginanku ini. Tak terasa aku mundur dan menyilangkan kedua tanganku menutupi payudaraku yang sebenarnya masih tertutup bajuku.“Pak, jangan kurang ajar ya. Saya akan teriak!”, aku mencoba menggertaknya. Tapi pak Agil malah tersenyum, senyuman itu memuakkan tapi mengerikan juga.
Pak Agil menjawab santai, “Teriak saja non. Sekalian biar orang orang di luar tahu keindahan tubuh non, dan pasti mereka nggak akan menolak kalau saya ajak untuk ikut menikmati servisnya non Liza”. Aku langsung lemas, rupanya ini arti mimpi burukku minggu lalu. Aku mengurungkan niatku, daripada aku digangbang tukang sapu ini dan beberapa penjual makanan kecil di luar.
Sudah cukup aku digangbang para pembantu dan sopirku di rumah, juga para satpam dan tukang sapu di sekolahku. Tanpa perlawanan yang berarti dariku, pak Agil sudah melucuti pakaianku hingga aku tinggal mengenakan bra dan celana dalam. Matanya melotot seakan hendak copot ketika ia memandangi tubuhku yang putih mulus tanpa cacat ini.
“Oh.. amoy yang satu ini memang sip”, guman pak Agil, tapi aku dapat mendengarnya jelas. Aku mencoba untuk memohon, “Pak, tolong jangan begini pak. Pak Agil butuh uang? Katakan pak, saya bisa bantu. Tapi jangan perkosa saya pak, saya aaah…”, aku mengerang ketika pak Agil sudah menyergapku dan meremas kedua payudaraku yang masih tertutup bra ini dengan kasarnya.
Aku menggeliat kesakitan dan berusaha melepaskan tangan kekar yang mencengkram kedua payudaraku ini, tapi usahaku sia sia saja, tenagaku terlalu lemah, dan rasa sakit ini membuatku semakin lemas. Selagi aku menahan sakit ini, pak Agil berbisik di telingaku, “Uang? Buat apa non? Saya tak ada keluarga, gaji saya sudah cukup untuk makan. Saya tak kepingin duit banyak, cuma kepingin mencicipi tubuh amoy cantik macam non gini”.
Hembusan nafasnya yang hangat di telingaku membuatku bergidik ngeri, aku tahu sudah tak ada jalan keluar setelah mendengar jawabannya. Kurasakan kedua payudaraku sudah tak diremas, tapi tiba tiba pak Agil mengarahkan mukaku ke hadapannya, bibirku dipagutnya dengan ganas, sementara celana dalamku dilorotkan seperlunya supaya jari tangannya bisa menusuk nusuk vaginaku.
Mendapat perlakuan seperti ini, aku hanya bisa menggeliat dan mengerang mengeluarkan suara tak jelas, “Emmph… mmmhh..”. Aku terus meronta, tapi makin lama rontaanku makin lemah, dan kudengar pak Agil tertawa menjijikkan, nampaknya ia yakin sekali aku sudah takluk padanya. Tapi aku tak bisa apa apa, tenagaku rasanya sudah melayang lenyap entah kemana.
Aku memejamkan mata, perlahan rasa nikmat yang menjalari tubuhku kembali mengalahkan akal sehatku. Desahan dan lenguhanku mulai terdengar, makin lama makin keras. Entah sejak kapan, tapi braku sudah jatuh ke lantai, celana dalamku juga sudah melayang entah kemana. Pak Agil mengatur posisiku sedemikian rupa hingga aku berdiri agak doyong ke depan menghadap kaca rias, dengan kedua tanganku menumpu di sana, kedua kakiku terpentang lebar.
Aku makin keras mendesah ketika beberapa jari tangannya mengaduk aduk vaginaku dari belakang. Kupejamkan mataku kuat kuat, rasanya malu memandang diriku di kaca dalam keadaan telanjang bulat dan sedang dipermainkan dari belakang oleh orang yang seumur dengan papaku. “Non, enak ya non diaduk aduk gini?”, ejek pak Agil melihatku sedang menggeliat keenakan.
Aku hanya bisa diam menahan rasa malu ini, tapi aku tak mampu bertahan untuk tidak orgasme, akhirnya tubuhku mulai tersentak sentak. Saat orgasme pertama mulai melandaku, kurasakan pak Agil mencabut jari tangannya dari liang vaginaku, dan tiba tiba kurasakan vaginaku yang pasti sedang mengeluarkan cairan cintaku ini, dijilati dan dicucup oleh pak Agil.
Tiba tiba kurasakan lidah pak Agil membelah dan menusuk vaginaku, mengorek ngorek semua sisa cairan cintaku, membuat aku terbeliak menahan nikmat, nafasku tertahan, dan tubuhku makin menggelinjang. Tak bisa kutahan lagi, aku melenguh keenakan, “nggghhhh… ooooohhhh”.
Aku melemas dan jatuh berlutut, tanganku yang serasa lunglai kupakai menahan tubuhku yang bergetar getar merasakan nikmat yang luar biasa ini. Ketika aku masih belum selesai melewati orgasme ini, tiba tiba pak Agil sudah ada di depanku dan membuka resleting celananya. Ia mengeluarkan penisnya yang sudah menegang, dan dengan seenaknya ia menyodorkan penisnya di depan mulutku, seolah olah memerintahkan budaknya untuk menghisap penisnya.
Aku merasa terhina diperlakukan seperti ini, tapi aku tak bisa berbuat apa apa, dan terpaksa menurutinya. Aku sempat memperhatikan penis yang minggu lalu mengaduk aduk vagina cie Elvira ini. Panjang, paling tidak antara 18 – 19 cm. Walaupun diameternya hanya sekitar 3,5 cm,tapi urat urat yang menonjol membuat penis itu terlihat kekar dan menyeramkan, siap mengaduk aduk liang vaginaku dengan ganas.
Kubuka mulutku perlahan, dan pak Agil yang sudah tak sabar langsung menjejalkan penisnya ke dalam mulutku. Aku segera berusaha membiasakan diri dengan rasa penis pak Agil ini. Penis yang begitu keras itu kuulum kulum dan kujilati memutar, perlahan akhirnya aku mulai menikmati mengoral penis panjang ini. Kumasukkan penis ini ke tenggorokanku dalam dalam, hingga pak Agil mengerang ngerang keenakan.
Aku sedang mencucup kepala penis pak Agil ketika tiba tiba aku mendengar kata kata pak Agil, “Bu Elvira, bukan saya yang maksa lho, tapi memang murid ibu yang nafsu nyepongin punya saya ini”. Serasa bagai mendengar petir di siang bolong, aku melepaskan kulumanku pada penis pak Agil, dan memang di kaca rias ruang ganti yang memanjang itu kulihat cie Elvira yang menandangku dengan tertegun.
Terlihat jelas ia tak percaya melihat apa yang sedang kulakukan ini. “Eliza… kamu…?”, cie Elvira bertanya kepadaku yang hanya bisa menunduk, aku malu dan takut sekali, tak berani melihat muka cie Elvira. Pak Agil yang tertawa tawa sejak tadi, tiba tiba mengangkat tubuhku, dan aku kembali diposisikan seperti tadi, dengan kedua kaki terpentang lebar dan tanganku kembali menumpu di kaca rias menahan badanku yang doyong ke depan.
Sekali ini tentu pak Agil tak hanya menggunakan jarinya, penisnya yang baru saja kukulum tadi akan segera menghajar selangkanganku. “Bu Elvira, daripada nanti ngiri sama murid ibu, sekalian aja gabung ke sini bu”, kata pak Agil dengan nada yang benar benar mengejek kami berdua. Aku melihat dari kaca rias, cie Elvira medekati kami sambil melihatku dengan pandangan yang aneh.
Dan tiba tiba pak Agil memegangi pinggulku, lalu penisnya ditempelkan ke mulut vaginaku. Dengan sekali sentak, penis itu tertelan habis ke dalam liang vaginaku yang sudah amat basah, sementara penis itu sendiri sudah basah oleh air liurku tadi.
“Ngghhh…”, aku melenguh antara sakit dan nikmat, merasakan urat urat yang menggerinjal pada penis pak Agil ini menerobos keluar masuk, membuat setiap gesekan pada dinding liang vaginaku terasa begitu nikmat” “Oooh.. sempitnya noon”, erang pak Agil. Aku menggigit bibir menahan nikmat yang mengalahkan rasa malu ini, disetubuhi di depan cie Elvira.
Tiba tiba kulihat dari kaca rias, pak Agil yang masih menggenjotku dari belakang, merangkul cie Elvira dan memagut bibirnya habis habisan, dan cie Elvira terlihat larut dalam pagutan pak Agil. Keduanya melakukan french kiss cukup lama, tapi pak Agil terus menggenjotku dengan tempo yang lumayan cepat.
Setelah puas melumat bibir cie Elvira, pak Agil menyuruh cie Elvira memposisikan dirinya sepertiku di sebelah kananku, kemudian segera kudengar cie Elvira mendesah dan kulihat tubuh cie Elvira tersentak beberapa kali. Saat kulihat ke belakang, ternyata tangan pak Agil sedang berada di sekitar selangkangan cie Elvira. Mudah saja ditebak, pasti sekarang jari tangan pak Agil sedang mengaduk aduk vagina cie Elvira.
“Aaaah…”, aku mengerang ketika dengan kasar pak Agil menyodokkan penisnya dalam dalam, tubuhku mengejang menahan rasa sakit bercampur nikmat yang melanda tubuhku ini. Cie Elvira yang di sebelahku juga mulai menggeliat, tapi yang membuatku merasa kikuk, cie Elvira memandangku dengan tatapan yang sayu dan aneh, membuat aku jadi salah tingkah dan bulu kudukku serasa meremang. Masa iya cie Elvira sedang bermaksud lain padaku?
Cie Elvira tiba tiba meraih tangan kananku dan dilingkarkan ke lehernya, sementara ia juga melingkarkan tangan kirinya pada leherku. Ia menolehkan mukaku, medekatkan mukanya dan tiba tiba memagut bibirku dengan ganas, membuat jantungku serasa berhenti, tak tahu harus berbuat apa. Tak lama kemudian, aku sudah hanyut oleh ciuman cie Elvira, dan dari awalnya tegang, lalu aku mulai pasrah.
Sekarang aku bahkan membalas ciuman ini. Lidah kami saling bertautan, aku merasa nikmat yang melandaku semakin berlipat ganda, dengan sodokan demi sodokan penis pak Agil yang menghajar vaginaku dengan ganas sementara aku berciuman dengan cie Elvira sampai akhirnya kami saling melepaskan diri setelah sama sama kehabisan nafas.
Aku hanya bisa tersipu malu tak berani memandang cie Elvira, tapi harus kuakui ada gairah aneh yang sempat melandaku tadi saat kami saling berpagut seperti layaknya sepasang kekasih. Setelah beberapa menit digenjot pak Agil, aku mulai merasakan akibatnya. “Ngghh… ooooh… aduuuh…”, aku mulai melenguh dan mengerang, rasanya aku akan segera orgasme.
Di sebelahku kulihat cie Elvira juga mulai menggeliat dan tubuhnya bergetar getar, terlihat sekali cie Elvira sedang dilanda kenikmatan yang maha dashyat. Aku sendiri sudah melayang di awang awang, tubuhu tersentak sentak dilanda orgasme yang kedua kalinya ini.
“Oooohh.. gilaaa.. seret abiiiis nooon”, erang pak Agil ketika otot vaginaku rasanya berkontraksi, pasti saat ini pak Agil merasa penisnya sedang diremas remas di dalam sana. Tak lama kemudian pak Agil menggeram, kurasakan penisnya berkedut dan menyemprotkan cairan hangat di dalam liang vaginaku saat ia mengerang ngerang penuh kepuasan.
Aku langsung melemas dan jatuh berlutut, penisnya terlepas dari vaginaku. Tak kuduga, cie Elvira tiba tiba merangsek ke selangkanganku, kini wajahnya sudah ada di hadapan vaginaku dengan tatapan penuh nafsu. Aku agak ngeri dan merambat mundur, tapi cie Elvira dengan cepat sudah memeluk kedua pahaku yang dilebarkannya.
Vaginaku sudah diserang habis oleh cie Elvira yang mencucup cairan cintaku yang sudah bercampur dengan sperma pak Agil. “Ciee.. ooooh… nggghhhh… “, aku mengerang dan melenguh, tubuhku menggelepar tak berdaya dihantam kenikmatan yang tiada tara ini. Beberapa menit lamanya tubuhku tersentak sentak dihantam badai orgasme.
Rasanya tubuhku semakin lemas, dan aku sudah pasrah, terserah mereka berdua yang hendak memperlakukan tubuhku seperti apa. Aku menurut saja ketika pak Agil memasukkan penisnya ke mulutku, dan tanpa diperintah aku sudah mengulum ngulum penis itu, menyeruput semua sisa spermanya dan cairan cintaku yang masih menempel di penis itu.
Tiba tiba terdengar suara pintu ruang depan terbuka, membuat aku sadar dari pesta seks yang memabukkan ini. Dengan panik aku segera melepas kulumanku pada penis pak Agil, lalu menyambar semua bajuku yang berserakan dan segera masuk ke salah satu kamar ganti lalu menutup tirainya.
Aku tak tahu apa yang dilakukan cie Elvira ataupun pak Agil, tapi akuku berharap mereka tak segila itu untuk membiarkan teman teman les balet tahu apa yang baru saja terjadi. Aku langsung mengenakan bra dan celana dalamku, lalu mengenakan kostum baletku. Ketika aku memakai sepatuku, aku melihat bercak basah di bagian selangkanganku.
Kelihatannya cairan cintaku masih terus mengalir dari vaginaku yang memang masih terasa berdenyut denyut. Urat urat penis pak Agil tadi benar benar membuatku keenakan, tapi kini aku bingung, bagaimana jika di antara teman temanku ada yang menyadari vaginaku baru saja memuntahkan cairan cinta?
Kudengar suara teman temanku yang gaduh seperti biasanya saat berganti di ruangan ini. Aku keluar dari ruang ganti, menyapa semuanya dan segera pergi ke atas panggung latihan. Jantungku berdebar kencang, berharap acara latihan ini segera selesai, sebelum ada yang tahu tentang selangkanganku yang basah. Cie Elvira sudah datang ke atas panggung, dan latihan pun dimulai.
Aku berada di depan sendiri seperti biasa, jadi aku masih punya harapan tak ada yang tahu tentang keadaanku. Ketika latihan baru berjalan 15 menit, cie Elvira tiba tiba menghentikan kami sejenak, dan mendatangiku. Aku jadi agak panik dan memandangnya dengan penuh tanda tanya, tapi perasaan tegang itu langsung sirna ketika aku mendengar kata kata cie Elvira.
“Liza, kamu kelihatan sakit? Badanmu tak biasanya sampai berkeringat banyak seperti ini. kalau kamu sakit, nggak usah dipaksakan deh, kamu boleh istirahat di ruang ganti, atau menonton saja di bawah panggung”, kata cie Elvira lembut.
Dengan penuh rasa terima kasih, aku mengangguk pada cie Elvira, lalu aku segera keluar dari barisan menuju ke ruang ganti di belakang panggung. Tapi ketika aku masuk, aku sadar aku harusnya lebih baik menonton saja tadi, karena ruang ganti ini sudah menunggu pak Agil dengan senyumnya yang menjemukan.
“Wah wah, non sudah gak sabar ya, masa sampai bela belain meninggalkan latihan yang baru saja dimulai. Sudah kangen ngerasain ini lagi ya non?”, kata pak Agil dengan kurang ajarnya sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah selangkangannya. Aku hendak keluar untuk menyelamatkan diri, tapi pak Agil lebih sigap.
Pak Agil menangkap pergelangan tanganku, lalu menyeretku ke dalam salah satu kamar ganti dan menutupkan tirainya. “Pak Agil.. jangan begini paak…”, aku berusaha memohon agar ia menghentikan semua ini. Tapi seperti orang yang kesetanan, pak Agil memepetkan aku ke dinding sekat, lalu mencumbuku dengan ganas dan terus meremasi kedua payudaraku dan meraba raba sekujur tubuhku.
Aku mulai meronta, berusaha lepas dari semua ini. Kudorong mukanya yang dari tadi menyusuri mukaku dengan bernafsu, dan tiba tiba aku kehilangan keseimbangan. Aku terjatuh ke tempat yang biasa dipakai duduk untuk mengenakan sepatu. Untung saja kepalaku tidak terbentur ke tembok. Pak Agil yang langsung menindihku, membuat posisiku semakin terjepit.
“Kalau non melawan terus, nanti sepulang latihan non akan saya bagikan pada orang orang yang berjualan di depan. Apa begitu maunya non?”, ancam pak Agil, membuat aku bergidik ngeri dan perlawananku berhenti dengan sendirinya.
“Lagipula, non gak usah malu malu deh”, kata Pak Agil dengan nafas memburu. “Tadi bukannya non keenakan sampai keluar dua kali? kok sekarang pura pura nggak mau”, ejeknya lagi. Aku membuang muka, ejekan itu benar benar membuat aku tak berdaya. Ingin aku menyangkal tapi kenyataannya memang aku tadi orgasme dua kali dibuatnya.
“Non, ayo lepas bajunya. Atau saya bantuin melepas?” tanya pak Agil sambil berdiri dan melepas celananya. “Pak, saya lepas sendiri saja”, kataku cepat. Aku tak ingin kostum baletku ini robek karena kebodohan pak Agil yang pasti tak tahu bagaimana melepas kostum balet dengan benar. Aku mulai melucuti bajuku sendiri, dan kumasukkan ke dalam tasku di luar.
Kini tinggal bra dan celana dalam yang menutupi tubuhku. Aku masuk kembali ke dalam ruangan eksekusi itu, dengan membawa tasku. Ketika aku melorotkan celana dalamku yang sudah becek itu, pak Agil kelihatan sudah tak tahan melihat pertunjukan striptease yang sedang kulakukan ini. Ia langsung menyergapku dan merenggut lepas braku.
Aku kembali dirobohkan ke tempat duduk itu, dan dengan buas pak Agil mencumbuiku habis habisan. Puting susu payudaraku yang sebelah kanan dicucupnya kuat kuat, sesekali digigit kecil olehnya. Selagi aku menggeliat lemah menahan sakit, payudaraku yang kanan mulai diremas remas dengan kasar. Dirangsang habis habisan seperti ini, akhirnya aku tak mampu bertahan untuk tidak mendesah.
Aku kembali menyerahkan diriku dengan putus asa, membiarkan pak Agil memperlakukan tubuhku sesuka hatinya. Tangan kiri pak Agil yang menganggur, kini mengaduk aduk vaginaku dengan sedikit kasar. Selagi aku berusaha beradaptasi dengan kekasaran pak Agil ini, beberapa saat kemudian kurasakan kepala penis pak Agil sudah bergesekan dengan bibir vaginaku.
Tubuhku yang dipepet pak Agil tak bisa bergerak bebas, maka aku hanya bisa pasrah, kedua pahaku sudah terangkat melebar, dan aku merasakan setiap milimeter gesekan penis pak Agil pada dinding liang vaginaku ketika penetrasi itu dimulai, dan tubuhku mengejang antara sakit bercampur nikmat, dan aku menggigit bibirku, berusaha segera beradaptasi dengan persetubuhan ini.
Hingar bingar suara musik di luar membuat aku lebih leluasa untuk melepaskan lenguhan tanpa kuatir terdengar oleh mereka. “Enngghh.. pak…”, aku melenguh keenakan ketika tiba tiba penis pak Agil menyodok dalam dalam. Cairan cintaku yang sudah kembali meleleh melumasi vaginaku membuat sodokan itu terasa begitu nikmat.
Apalagi urat urat yang menggerinjal itu berdenyut denyut, membuat aku kehilangan kontrol dan mulai menggerakkan pinggulku menyambut tiap genjotan yang dilakukan pak Agil. “Enak ya non?” tanya pak Agil dengan senyum mengejek. “Iyah pak… nngghh.. ooohh” jawabku tanpa sadar. Yang kupikirkan sekarang adalah mengejar orgasmeku, tak kuperdulikan pak Agil yang mengejekku dengan cara menirukan desahan, erangan dan lenguhanku.
Genjotan itu makin lama makin kuat, akhirnya aku dilanda orgasme hebat, pinggangku sampai melengkung seolah mengekspresikan nikmat yang amat sangat ini. Beberapa kali tubuhku tersentak sentak sampai akhirnya melemas, kakiku yang melejang lejang terasa begitu pegal. Pak Agil masih menggenjotku dengen bersemangat, dan aku yang sudah kelelahan hanya bisa menggeliat lemah.
Satu hentakan keras batang penis yang amat keras itu mengakhiri genjotan pak Agil pada vaginaku. Cairan hangat menyemprot dari penis pak Agil, membasahi vaginaku yang sudah amat basah ini, pak Agil menggeram dan tubuhnya bergetar getar, terlihat sekali ia amat puas. Pak Agil menarik penisnya perlahan dari liang vaginaku, membuat dinding vaginaku rasanya digesek perlahan oleh urat urat penis pak Agil.
Hal ini menimbulkan sensasi tersendiri, dan aku mendesah perlahan. “kenapa non? Masih belum puas? Nanti jangan pulang dulu non, kita lanjut lagi ke babak kedua, sekalian sama bu Elvira”, kata pak Agil. Mendengar kata katanya ini, aku terkejut dan mendorongnya. “Pak Agil, jangan macam macam ya. Sudah cukup sampai di sini! Memangnya kenapa saya harus menuruti dan melayani pak Agil!”, kataku sedikit membentak.
“Karena non pasti tak ingin celana dalam non ini saya berikan pada orang orang di luar sana kan?”, dengan santai pak Agil memegang celana dalamku, lalu dengan gaya menjijikan pak Agil menghirup bau celana dalamku. “mmm harumnya..”, guman pak Agil.
Aku hanya bisa memandang marah padanya, tapi aku tahu mau tak mau aku harus menuruti kemauan tukang sapu sialan ini daripada aku jadi bulan bulanan mereka yang biasa berjualan di luar. Pak Agil dengan senyum kemenangan menyodorkan penisnya ke wajahku, dan aku mengulum dan menjilati penis itu dengan kesal.
Ingin rasanya kugigit saja penis yang sedang kukulum ini, tapi aku tak berani melakukannya. “Jadi nanti saya harap saya bisa menemukan non di ruang ganti ini waktu semua orang sudah pulang. Non mengerti kan siapa yang akan rugi kalau non sampai berani pulang duluan?”, kata pak Agil santai sambil menikmati hisapanku pada penisnya.
Setelah puas ia meninggalkanku sendirian, dan aku termenung beberapa saat, lalu memakai sisa pakaianku tanpa celana dalam. Kini aku hanya bisa berharap hari ini cepat berlalu. Suara musik di depan sudah berhenti, latihan balet sudah selesai. Aku segera keluar dan berpapasan dengan teman temanku yang sudah menghambur ke ruang ganti.
Di luar aku duduk termenung di kursi panjang tempat Cie Elvira minggu lalu digarap oleh pak Agil. Aku pasrah menunggu nasib. Cie Elvira tiba tiba menghampiri dan mengejutkanku, “Liza, kamu kok tidak pulang saja sekarang?”. Aku hanya tertunduk, dan ketika cie Elvira duduk di sebelahku, aku berbisik pada cie Elvira tentang apa yang terjadi padaku di ruang ganti tadi.
“Dasar bandot sialan”, cie Elvira menghentakkan kakinya ke lantai dengan marah. Cie Elvira makin kesal ketika aku mengatakan tadi pak Agil juga berencana mengajak cie Elvira untuk babak kedua nanti. Tapi kami berdua tak bisa berbuat apa apa, hanya bisa menunggu dengan kesal. Tapi sejujurnya, ada sebersit perasaan terangsang yang melandaku, ketika aku memikirkan harus menyerah pasrah pada pak Agil itu.
“Liza, maafin cie cie kamu jadi terlibat sejauh ini. Semua juga gara gara minggu lalu kamu terpaksa harus melihat cie cie yang sedang main gila dengan bandot sialan itu sekarang cewek baik baik seperti kamu harus menanggung dosa seperti cie cie”, kata cie Elvira sedih.
“Nggak cie, Liiza bukan cewek yang suci suci amat kok”, kataku berusaha menghibur cie Elvira. Aku menceritakan sekilas tentang keadaanku, tentu saja dengan suara yang pelan dan memastikan tak ada teman temanku di sekitar kami yang bisa mendengar. Cie Elvira tertegun mendengar semuanya, pengalaman seksku di sekolah, di rumah, di rumah temanku Jenny, juga di villa.
Rambutku dibelai oleh cie Elvira yang terlihat amat prihatin pada nasibku. “Liza, tadi, cie cie menyedot habis sperma si bandot itu, cie cie berusaha mencegah kamu sampai dihamili oleh tukang sapu yang tak tahu diri itu, Liza”, wajah cie Elvira bersemu merah ketika mengatakan hal ini. “Untungnya kamu sudah minum pil anti hamil, Liza”, sambung cie Elvira yang menundukkan mukanya dan tesipu malu.
Aku teringat kejadian tadi, aku menjadi sangat malu, terutama karena aku amat menikmati saat saat cie Elvira mencucup cairan cintaku yang bercampur dengan sperma pak Agil tadi. Dengan wajah yang terasa sangat panas, aku memeluk cie Elvira dan berkata, “Cie cie, nggak usah kuatir, aku udah minum obat anti hamil kok.”. Setelah itu semua teman temanku berpamitan pulang pada cie Elvira.
Begitu ruangan ini kosong, pak Agil masuk menghampiri kami berdua yang menatapnya dengan kesal tanpa daya. “Kurang ajar kamu itu Gil. Belum cukup apa kamu gituin saya?”, bentak cie Elvira. Pak Agil tertawa tawa dan mendekatiku, tiba tiba tangannya merangsek ke selangkanganku melewati rok yang kukenakan. Dengan tepat salah satu jari tangannya melesak masuk ke liang vaginaku, mengaduk aduk liang kenikmatanku dengan kasar.
“Oooh…”, aku mengerang menahan sakit yang bercampur nikmat ini. “Masa saya kurang ajar bu? Murid ibu yang memang rela kok, buktinya dia nggak pakai celana dalam, dan memeknya sudah becek seperti ini”, pak Agil berkata sambil mencabut jari tangannya dari liang vaginaku, membuatku sedikit menggeliat, rasanya amat nikmat ketika bagian dalam vaginaku ikut terseret keluar ketika jari itu tercabut lepas.
Ia mempertontonkan jari tangannya yang sudah becek sekali berlumuran cairan cintaku. Aku membuang muka, malas aku melihat muka orang yang buruk rupa ini yang kini sudah berkuasa atas tubuhku. “Bu, kok masih belum buka bajunya? Jangan malu malu di depan murid ibu lah, kita kan sudah biasa mengarungi surga dunia bersama sama?”, kata pak Agil sambil kembali menancapkan jari tangannya ke liang vagnaku, dan ia mulai melanjutkan aktivitasnya mengaduk aduk liang vaginaku dengan jarinya.
“Kamu…”, cie Elvira tak bisa meneruskan kata katanya, hanya memandang marah pada pak Agil, sementara aku mulai larut oleh permainan jari tangan pak Agil di vaginaku. Tubuhku sesekali mengejang, dan aku memandang sayu pada cie Elvira, yang membalas tatapanku dengan pandangan aneh seperti tadi. Oh.. apakah cie Elvira akan…?
Dugaanku benar, tiba tiba cie Elvira mendekatiku, dan dengan nafas yang memburu cie Elvira tiba tiba memagut bibirku. Aku benar benar kelabakan, perasaan aneh yang menjalari tubuhku ditambah sensasi adukan jari tangan pak Agil pada liang vaginaku, benar benar membuatku kehilangan kontrol atas diriku.
Tanpa sadar aku memeluk cie Elvira dan membalas pagutannya dengan tak kalah bernafsunya. “Lho lho… kok malah asyik sendiri toh kalian?”, ejek pak Agil pada kami yang masih saling berpagut. Kami tak memperdulikan ejekannya, dan ciuman kami makin hot saja seolah saling tak ingin melepaskan. Lidahku dan lidah cie Elvira saling bertautan dan mendesak ke mulut lawan ciuman, pelukan kami juga makin erat.
Tiba tiba pak Agil kembali mengeluarkan jari tangannya dari liang vaginaku, lalu ia menyusup duduk di antara aku dan cie Elvira. Aku melihat celana dalam cie Elvira dilorotkan oleh pak Agil. Dan pak Agil mulai bergantian menyedot dan mencucup cairan cinta dari vaginaku dan vagina cie Elvira, membuat kami berdua mulai melenguh tak tahan dilanda kenikmatan ini.
“Ohh.. cieee…”, aku mengerang keenakan, sementara cie Elvira juga kelihatan terangsang berat, sesekali ia melenguh, “ngghhh.. Lizaa..”. tubuh kami berdua bergetar getar, akhirnya setelah disedot entah yang ke berapa oleh pak Agil, aku terbeliak, nafasku tertahan, tubuhku mengejang hebat.
Aku orgasme di pelukan cie Elvira, yang malah dengan ganas mencumbuku, membuat aku semakin tenggelam dalam nikmatnya orgasme yang makin menggelegak ini. Keringatku mengucur membasahi bajuku. Kurasakan cairan cintaku membanjir tapi kelihataanya semua ditelan habis oleh pak Agil yang masih saja mencucup mulut vaginaku.
Aku dan cie Elvira saling melepaskan pelukan dengan nafas yang tersengal sengal, dan cie Elvira hanya pasrah saat tubuhnya dibaringkan oleh pak Agil di kursi panjang, dan pak Agil melepas celananya, siap untuk bertempur.
Kini dengan bernafsu pak Agil mulai menggenjot cie Elvira yang masih memakai baju lengkap kecuali celana dalamnya yang sudah terlepas dari tadi. Aku duduk lemas memandangi mereka berdua yang sedang berpacu menuju orgasmenya. Aku tak pernah menyangka, cie Elvira yang biasanya terlihat alim itu kini begitu liar dan larut dalam persetubuhannya dengan tukang sapu di sekolah balet ini.
Cie Elvira terlihat begitu menikmati saat saat vaginanya dipompa habis habisan oleh pak Agil, ia melenguh dan menggeliat keenakan, sesekali menjerit menahan nikmat yang melandanya. Tak lama kemudian cie Elvira orgasme, tubuhnya tersentak sentak di bawah tindihan pak Agil yang ternyata juga mengalami orgasme.
Pak Agil menggeram, tubuhnya bergetar, dan ia mengerang, “ooooh… bu Elviraaa…”. Pak Agil sempat berkelojotan beberapa saat, dan penisnya ditusukkan dalam dalam pada liang vagina cie Elvira. Mereka berdua mereguk kenikmatan itu bersamaan, dan pak Agil jatuh tergeletak di lantai dengan nafas ngos ngosan.
Cie Elvira sendiri masih terbaring lemas di kursi panjang itu, tubuhnya bergetar getar, dan cairan putih kental meleleh dari mulut vaginanya. Nafas dan desahan cie Elvira sesekali terdengar mengeras, bajunya basah oleh keringat. Kami semua diam dan beristirahat sebentar, dan aku melihat jam menunjuk pukul setengah delapan malam.
Beberapa menit kemudian, pak Agil berdiri, ia memandangi cie Elvira yang sudah mulai sadar dari orgasmenya. “Bu Elvira, sampai keringatan gitu, gimana kalau kita mandi saja?”, tanya pak Agil dengan pandangan mesumnya. Cie Elvira hanya pasrah saat pak Agil mengangkatnya berdiri dan setengah menyeret cie Elvira ke kamar mandi di sekolah balet ini.
Aku bingung tak tahu harus berbuat apa. Tapi saat pak Agil akan menghilang ke pintu kamar mandi, ia memanggilku, tentunya dengan gaya yang amat melecehkanku. Jari telunjuk kanannya diarahkan padaku, lalu ditekuk ke arahnya beberapa kali seolah memanggil seorang budak.
Dengan kesal namun penasaran apa yang akan terjadi dengan cie Elvira, aku mengikuti mereka masuk. Di dalam aku melihat pak Agil yang sudah telanjang bulat, sedang menanggalkan baju cie Elvira satu per satu. Cie Elvira sempat menahan tangan pak Agil ketilka hendak menanggalkan bra merah mudanya, tapi dengan kasar pak Agil merenggut bra cie Elvira, hingga tubuh cie Elvira yang putih mulis kini sudah polos tak tertutup apapun.
Ikat rambut cie Elvira dilepas oleh pak Agil, hingga rambut cie Elvira tergerai melewati bahunya. Cie Elvira terlihat makin cantik saja, dan hal ini entah kenapa membangkitkan gairahku. Pak Agil menyemprotkan air dari selang yang dipasangnya di kran kamar mandi itu ke tubuh cie Elvira. Entah dinginnya air yang membasahi tubuh cie Elvira, atau belaian pak Agil yang membuat tubuh cie Elvira menggigil…
Pak Agil membasahi seluruh tubuh cie Elvira, dan dengan lembut ia membelai sekujur tubuh cie Elvira yang hanya memejamkan matanya. Pak Agil mulai menyabuni tubuh cie Elvira, perlahan dari pundak, punggung, pantat, lalu beralih ke depan, mulai dari dada dan kedua payudaranya. Sesekali pak Agil meremas lembut kedua payudara cie Elvira, dan cie Elvira mendesah pasrah.
Cie Elvira bahkan mengangkat kedua lengannya yang sudah selesai disabuni, dan pak Agil menyabuni ketiak cie Elvira. Setelah bagian atas selesai, pak Agil menyiram tubuh cie Elvira dengan penuh perhatian, membersihkan semua sisa busa sabun yang masih melekat di tubuh cie Elvira. Tentu saja itu dilakukan pak Agil sambil sesekali membelai dan meremas kedua payudara cie Elvira, yang kembali hanya bisa mendesah dan menggeliat lemah.
Cie Elvira terlihat menikmati perlakuan pak Agil yang melanjutkan menyabuni tubuhnya bagian bawah. Pahanya sedikit terentang, dan pak Agil menyabuni selangkangan cie Elvira, yang mulai berkelojotan ringan dan menjerit kecil ketika jari tangan pak Agil mengaduk aduk vaginanya. Pak Agil mengeluarkan sisa spermanya yang ditembakkannya saat menyetubuhi cie Elvira tadi, dan cie Elvira sampai harus berpegangan pada tembok selagi tubuhnya semakin hebat menggeliat.
Siraman air yang disemprotkan deras pada vagina cie Elvira oleh pak Agil, membuat cie Elvira tak tahan lagi, ia orgasme hebat dan melenguh keenakan. “Eeenngggh…”, erang cie Elvira yang lalu mulai melemas, dan jatuh terduduk di lantai. Pak Agil menyabuni paha dan betis cie Elvira, lalu menyiram lembut sampai tak ada sisa busa sabun di sana, lalu mengeringkan tubuh cie Elvira dengan handuk
Tiba tiba aku merasa ingin dimandikan juga. Tapi masa aku yang meminta? Maka aku hanya diam, memandangi mereka berdua yang sedang asyik ini dengan sedikit iri. Hah? Masa aku sudah separah ini, sampai menginginkan diriku diperlakukan seperti cie Elvira? Aku berusaha meredam birahiku yang makin tinggi ini.
Tapi ketika kulihat Pak Agil menyusu pada cie Elvira yang mulai mendesah dan menggeliatkan tubuhnya, aku makin tak tahan, kurasakan cairan cintaku mulai meleleh sedikit dari liang vaginaku. Aku benar benar sudah terangsang, nafasku makin memburu. “Non Liza, ini yang sering bapak lakukan sama bu Elvira. Kelihatannya non Liza juga kepingin ya?”, tanya pak Agil sambil terkekeh.
Aku tak bisa menjawab, mukaku makin panas saja rasanya. Aku pun membuang muka ketika pak Agil meninggalkan cie Elvira dan mendekatiku. Sekarang pak Agil sudah memepetku di tembok, jantungku berdegup kencang menanti apa yang akan terjadi padaku. Kudengar ia berbisik di telingaku, “mau saya mandikan seperti bu Elvira, non Liza?”
Gilanya, tanpa bisa aku tahan, aku mengangguk lemah. Sadar dengan apa yang baru saja kulakukan, aku memejamkan mata menahan malu yang amat sangat ini. Pak Agil tertawa penuh kemenangan, dan mulai melucuti pakaianku. Aku merasa tak ada harga diriku yang tersisa lagi di depan tukang sapu ini, dan beberapa saat kemudian aku sudah telanjang bulat, dan aku dibawa ke dekat mulut selang itu.
Ikat rambutku dilepas oleh pak Agil hingga tergerai bebas. Aku sempat teringat, semua orang yang mengenalku berkata aku bertambah cantik waktu rambutku tergerai seperti ini. Tapi ini bukan waktu untuk bernarsis ria. Cie Elvira beralih ke tempat yang aman dari semprotan air, dan memandangiku yang mulai dimandikan oleh pak Agil. Seluruh tubuhku dibasahi oleh pak Agil, rasanya segar dan nyaman.
Sesekali aku menikmati belaian lembut oleh tangan pak Agil pada leherku, pundakku dan kedua payudaraku. Ketika mulut vaginaku digesek pelan oleh pak Agil, aku merintih pasrah, kubiarkan pak Agil melakukan apa saja pada tubuhku yang sudah basah seluruhnya, lalu ia mulai menyabuni tubuhku.
Dimulai dari leherku bagian belakang ke depan, kemudian punggungku digosoknya lembut dan melingkar ke depan. Aku sedikit menggeliat ketika kedua tangan pak Agil yang menyabuni payudaraku sesekali meremas lembut. Kedua ketiakku tak luput dari perhatian pak Agil, ia menyabuni keduanya sebelum meneruskan ke arah perutku.
Merasakan sekujur tubuhku dibelai seperti ini, aku mulai mendesah dan menikmati setiap rabaan tangan pak Agil, juga busa sabun yang lembut ini menambah sensasi yang kurasakan. Perutku digosok oleh pak Agil dengan sedikit ditekan, lalu memutar ke belakang, dan ketika sampai pada bagian pantatku, pak Agil dengan nakal meremas keras, membuatku sedikit meloncat dan menjerit kecil karena terkejut.
Siraman air dingin kembali mengguyur tubuhku, membersihkan tubuhku dari busa sabun ini. Setelah itu, seperti cie Elvira tadi, pak Agil mulai menyabuni daerah selangkanganku, dan mengorek ngorek vaginaku dengan jari tangannya. Aku menggeliat dan menggigit bibir menahan nikmat diperlakukan seperti ini. Semprotan air dari selang ke arah vaginaku membuat sensasi ini makin dahsyat.
Hampir saja aku orgasme saat pak Agil menghentikan semprotannya pada vaginaku. Aku mengeluh tapi untungnya pak Agil kembali mengorek ngorek vaginaku, dan tak lama kemudian ia berhasil mengantarku menuju orgasmeku. Tubuhku berkelojotan dan melemas, perlahan aku jatuh terduduk di lantai yang basah ini.
Setelah menyabuni kedua kakiku dan betisku, pak Agil menyemprotkan air membersihkan semua sisa busa sabun pada tubuhku ini. lalu aku diangkatnya, dan didudukkan di sebelah cie Elvira. Tubuku yang basah kuyup dikeringkan oleh pak Agil dengan handuk tadi. Lalu pak Agil menarik berdiri cie Elvira, dan kaki kiri cie Elvira diangkat tinggi oleh pak Agil.
Kini vagina cie Elvira cukup terbuka, dan pak Agil menancapkan penisnya ke liang vagina cie Elvira. Lalu pak Agil mulai menggenjot cie Elvira, yang hanya bisa menggeliat lemah dan melenguh keenakan. Tiba tiba samar samara kudengar ada bunyi HP. Aku memperhatikan sejenak, ternyata dari luar. Aku segera berlari menuju arah bunyi itu, dan ternyata dari HPnya cie Elvira.
Aku mengambil dan membawa HP itu masuk kembali ke dalam kamar mandi tempat kami pesta sex, sambil membaca siapa peneleponnya. “Cie, ini dari ko Johan. Gimana cie?”, tanyaku. Cie Elvira menatapku sayu sambil meminta HPnya dariku, “Berikan.. pada cie cie.., Liza..”. Aku memberikan HP itu dan cie Elvira segera menekan tombol jawab.
“Halo… iya sayang…”, cie Elvira mulai bercakap cakap dengan ko Johan. Tentu saja kata kata cie Elvira terputus putus, karena pak Agil tak menghentikan genjotannya sama sekali. Terlihat sekali cie Elvira berusaha menjaga kewajaran gaya bicaranya, tapi tetap saja ia sedikit melenguh saat. “Nggak… apa apa… sayang.. aku… ada di wc… kok… iyah.. aku agak telat.. pulangnya…”.
Aku teringat waktu aku digangbang kedua pembantu dan sopirku di rumah dan kebetulan kokoku telepon, maka aku tahu apa yang sedang dirasakan cie Elvira sekarang ini. Entah kenapa aku malah mulai terangsang melihat cie Elvira yang sedang berjuang keras menahan lenguhannya. Kudengar keraguan dari cie Elvira ketika ia mengucapkan “Iyah sayang… aku… aku juga… cinta kamu…”
Cie Elvira menutup HPnya, dan segera saja cie Elvira melepaskan lenguhannya sejadi jadinya. “Ngggghhh… oooohhhh… aduuuuhhh…”, erangan dan lenguhan cie Elvira memenuhi ruangan ini. Cie Elvira dilanda orgasme yang amat dahsyat. Tubuhnya berkelojotan, sampai pak Agil tak kuat menahan sentakan demi sentakan dari tubuh cie Elvira. Penisnya tertarik lepas karena tubuhnya terdorong saat cie Elvira menggeliat hebat, dan terlihat cairan cinta cie Elvira menetes netes dari mulut vaginanya.
Pak Agil berlutut dan mencucup vagina cie Elvira yang masih bersandar di tembok. Cie Elvira terus mengerang dan melenguh, dan hal ini malah membuatku menjadi liar. Tanpa memperdulikan martabatku yang aku rasa memang sudah hancur ini, kudorong pak Agil hingga roboh, lalu penisnya yang masih tegak mengacung itu kududuki hingga tertelan oleh vaginaku.
Aku mulai menaik turunkan tubuhku yang masih basah ini, hingga vaginaku terpompa penis itu. Pak Agil agak kelabakan dan mengerang ngerang. Cie Elvira tak tinggal diam. Ia menduduki muka pak Agil hingga vaginanya tepat ada di atas mulut pak Agil. “Gil, ayo jilatin punyaku”, perintah cie Elvira. Kini pak Agil kewalahan menghadapi keliaran kami berdua. Aku dan cie Elvira seolah berlomba mencapai orgasme.
Tentu saja aku yang menang, karena vaginaku dipompa oleh penis pak Agil, sementara vagina cie Elvira hanya dijilatin saja. “Eeenngghhh… “, aku melenguh dan tubuhku berkelojotan di atas pak Agil, yang ternyata juga orgasme bersamaan denganku. Pak Agil menggeram dan sempat meracau ketika cie Elvira sedikit mengangkat badannya.
“Ooohhh.. memang punya non Liza ini… paling enaaak… lebih enak dari punya non Veraa”, pak Agil meracau, membuat aku dan cie Elvira saling pandang. Kurasakan penis pak Agil berkedut dan menembakkan cairan hangat di dalam liang vaginaku. Aku agak melemas, dan menarik lepas vaginaku dari tusukan penis pak Agil yang mulai loyo.
Cie Elvira yang masih belum orgasme, segera mengubah posisinya jadi 69. Cie Elvira membungkukkan badannya, dan mulai menghisapi penis pak Agil dengan gencar, membuat pak Agil mengerang ngerang dan berkelojotan, tapi cie Elvira tak perduli. Aku melihat semua itu dengan birahi yang perlahan kembali naik, tapi aku hanya melihat saja apa yang sedang dilakukan cie Elvira.
Kata kata pak Agil tentang Vera tadi juga membayang di pikiranku. Oh.. ternyata selain cie Elvira, Vera juga jadi pemuas nafsu seks pak Agil ini sebelum aku juga terlibat. Tapi pemandangan di depanku terlalu indah untuk kulewatkan dengan melamunkan hal itu. Cie Elvira dan pak Agil saling memuaskan pasangannya dengan gaya 69, dan akhirnya cie Elvira orgasme duluan.
“Ohh… aduuuuh…”, erang cie Elvira, tubuhnya kembali berkelojotan. Cie Elvira duduk lemas di sebelah pak Agil, dan aku berpikir, mungkin kali ini aku dan cie Elvira bisa bekerja sama mengalahkan pak Agil ini. Aku segera menggantikan cie Elvira menghisap penis pak Agil, yang mulai mengerang kembali, makin lama makin keras.
Aku tak tanggung tanggung lagi menghisap penis pak Agil ini. Kujilati memutar, kucucup perlahan dan saat penis itu sudah mengeras kembali, aku memasukkan ke dalam tenggorokanku dalam dalam. Pak Agil melolong keenakan, tapi jelas sekali staminanya sudah terkuras. Ia hanya pasrah saja saat aku terus melakukan deep throat ini, sampai akhirnya penisnya berkedut dan menyemburkan spermanya.
Aku melepaskan kulumanku pada penis pak Agil yang kini sudah terengah engah seperti baru saja berlari maraton. Cie Elvira dengan iseng kembali menghisap penis pak Agil yang sudah loyo itu, membuat pemiliknya sampai memohon mohon supaya cie Elvira dan aku menghentikan semua ini. lho? Kok ganti kami para cewek ini yang memperkosa pak Agil?
Tapi cie Elvira tak perduli, ia terus memaju mundurkan kepalanya, sementara pak Agil terus memohon supaya cie Elvira menghentikan hisapannya. Beberapa saat kemudian, pak Agil mengerang ngerang dan melemas, rupanya pak Agil kembali mengalami ejakulasi. Wajahnya memucat, ia terlihat semakin lemas dan kelelahan.
Cie Elvira melepaskan kulumannya pada penis pak Agil, dan memberiku tanda untuk melanjutkan. Aku segera maju menggantikan cie Elvira, dan ketika pak Agil memohon mohon padaku agak aku menghentikan hisapanku, kupakai kesempatan ini untuk meminta kembali celana dalamku. “Begini saja pak, kembalikan celana dalam saya, maka saya akan menghentikan semua ini”, kataku memberikan tawaran pada pak Agil.
Pak Agil segera menjawab, “Iya non, bapak kembalikan. Ambil saja di gudang sebelah kamar mandi ini, bapak taruh di dalam tas coklat besar”. Mendengar ini, aku pamit pada cie Elvira untuk ke gudang yang dimaksud pak Agil, dan memang di sana kutemukan tas coklat seperti kata pak Agil tadi. Kubuka tas itu, kuambil celana dalamku dan kusimpan dalam tasku sendiri yang tergeletak di kursi panjang itu.
Lalu aku masuk kembali, dan kulihat cie Elvira sedang menghisap pak Agil. Ketika melihatku, cie Elvira menghentikan sejenak hisapannya, dan bertanya padaku, “Gimana Liza, sudah kau temukan?”. Aku mengangguk sambil tersenyum, dan cie Elvira melanjutkan hisapannya kembali, membuat pak Agil yang sudah amat lemas itu mengerang lemah, nafasnya makin ngos ngosan.
Setelah beberapa menit, tubuh pak Agil berkelojotan, dan cie Elvira terus menghisap sampai tak ada lagi sperma yang tertinggal di penis pak Agil. Barulah setelah itu, cie Elvira berdiri dan berkata pada pak Agil, “Ini bayaranmu Gil karena berani mengganggu murid kesayanganku”. Pak Agil hanya diam, spermanya yang sudah diperas habis oleh kami berdua membuatnya amat lemas. Aku dan cie Elvira saling tersenyum, kemudian kami menyempatkan untuk mandi bersama karena tubuh kami kembali berkeringat setelah melakukan pesta sex ini.
Aku dan cie Elvira saling memandikan dan menyabuni tubuh kami masing masing, tanpa larut dalam nafsu birahi. Kami memang bukan lesbian, tadi itu hanya letupan gairah yang luar biasa yang membuat kami berdua melakukan ciuman maut seperti itu. Setelah saling mengeringkan tubuh, kami segera berpakaian, lalu tanpa perduli kami keluar meninggalkan pak Agil yang masih tergolek lemas tak berdaya di lantai kamar mandi ini.
“Cie, Liza pulang dulu ya”, aku pamit pada cie Elvira yang tersenyum manis padaku dan menjawab, “Iya Liza, cie cie juga mau pulang kok. Masa mau di sini terus menemani bandot sialan itu?”. Aku dan cie Elvira tertawa geli, mengingat tukang sapu itu sudah kami taklukkan. Hatiku senang sekali, rasanya aku dan cie Elvira makin akrab saja. Selain itu, besar harapanku bahwa pak Agil tak akan mengulangi perbuatannya hari ini terhadapku pada minggu depan dan seterusnya.
Kami keluar dari sekolah balet ini saat jam menunjuk pukul 9. Beberapa abang becak yang mangkal di sekitar situ agak heran melihat kami berdua, mungkin mereka bertanya tanya ngapain aja dua cewek cantik ini dari tadi di dalam… Tapi aku dan cie Elvira tak perduli. Kami masuk ke mobil dan pulang ke rumah masing masing. Di dalam perjalanan pulang aku kembali teringat akan Vera, dan menduga duga, sejak kapan ya Vera jadi budak seks pak Agil?
Sampai di rumah, aku berharap tak masih harus jadi bulan bulanan pak Arifin, Wawan dan Suwito seperti minggu lalu. Untungnya aku melihat mobil ortuku dan kokoku ada di rumah dan kebetulan sekali kokoku ada di garasi sedang mengutak atik mobilnya. Jadi para pembantu dan sopirku tak berani macam macam untuk mengerjaiku. Aku menyapa kokoku yang juga menyapaku balik. Kokoku pasti tak tahu betapa aku berterima kasih padanya yang ‘menyelamatkanku’ dari kemungkinan digangbang oleh mereka ini
Aku segera masuk ke dalam. Kedua ortuku sudah beristirahat di dalam kamarnya, dan aku segera naik menuju kamarku di lantai dua. Di kamarku, aku segera berganti baju tidur karena tadi sudah mandi di sana. Lalu aku mengistirahatkan tubuhku yang telah berkali kali orgasme di sekolah balet tadi. Rasanya nyaman sekali. Cepat sekali aku tertidur pulas, malas memikirkan kejadian apa lagi yang akan menghiasi kehidupan seksku ini.
DITANGAN KAKAK
Gw gak begitu pinter cerita, jadi to the point aja deh ya…
Waktu itu gw masih kelas 1 SMA. Biasalah umur segitu libido tinggi banget. Tiada hari tanpa ngeluarin sperma. Tiap pagi, kadang2 malem juga, biar tidur nyenyak.
Gw punya kakak cewe, yg waktu itu udah umur 25 dan baru married. Seksi sih tapi gw gak pernah mikir terlalu jauh. Kalo liat dia pake bra dan cd sih sering. Pertama kali liat dia telanjang pas mandi di rumah kakek dulu. Kamar mandinya di luar dan terpisah dari rumah (biasalah di kampung). Ada dinding tp gak ada atap. Karena kakak gw takut mandi sendiri, gw disuruh nemenin. Kirain disuruh nunggu di luar, ternyata diajak mandi bareng sekalian. Ya udah gw buka semua sampai celana dalam. Eh ternyata dia buka semua, jadi ya gw pura2 cuek aja, buka semuanya jg.
Masalahnya, biarpun muka gw pura2 cuek, tapi yg di bawah gak bisa pura2. Kamar mandinya sempit. Pas kakak gw mau ambil gayung, tubuh kita berhadapan langsung, cuma jarak sejengkal kali. Mau nggak mau kontol berdiri donk. Gak bisa menghindar lagi. Tapi waktu itu kakak gw sih cuma senyam-senyum aja, sambil bilang “Heh, jgn kurang ajar ya!” Untung gak marah beneran. Soalnya sampe selesai mandi tetep aja gw ereksi.
Ya sejak saat itu jadi lumayan sering berfantasi sm kakak. Gak pernah ngebayangin ngentot sm dia sih tapi jadi suka bayangin kalo dia ml gimana ya. Pernah jg waktu itu lewat kamarnya tengah malam dan denger suara2 nikmat, suara2 ngentot gitu deh. Ya namanya juga dah married.
Menjelang akhir kelas 1 SMA itu gw kecelakaan lalu lintas. Tangan gw yg lumayan parah, sampe dioperasi dua kali dan sempet dirawat di RS hampir 3 mingguan. Kaki juga dislokasi dikit tapi gak parah2 amat, walaupun gak bisa jalan juga.
Singkat kata, setelah 2 minggu di RS, napsu udah di ubun2. Umur lg hot2nya, biasanya coli tiap hari tapi udah 2 minggu kontol dipake buat pipis doank. Mending kalo nggak ada godaan. Tiap pagi dan sore dateng perawat, kadang berdua, buat mandiin. Gw dibugilin dan seluruh tubuhnya dibersihin tanpa belas kasihan. Mana tahan?
Nah saat itulah tiba giliran kakak gw yg jaga di rumah sakit. Karena ada kakak gw, ya dia yg ngurus semuanya. Pagi dan sore juga dia yg mandiin gw. Hasilnya sama aja, ya gw ereksi terus. Tapi gak terlalu malu lah dibanding sama perawat. Yang agak nyusahin itu kalo gw mau pipis. Kan harus di pispot. Nah pas celana dibuka, pasti ereksi. Tau sendiri kan kalo udah tegang pasti susah pipisnya. Jadi harus nunggu bbrp menit dulu sebelum bisa pipis hahaha…
Pas hari kedua, setelah dua kali mandiin gw dan berkali2 bantuin gw pipis, akhirnya kakak gw nyadar juga ‘masalah’ gw. Pagi2 banget, sekitar jam 6 pagi, gw minta dibantu pipis. Seperti biasa, ereksi lagi. Kakakku langsung naruh pispotnya balik ke bawah tempat tidur, dan nanya ke gw yg saat itu lg dlm posisi pasrah tak bercelana.
“Dah gak tahan bgt ya?” katanya.
“Gak tahan apanya?” (gw pura2 innocent lah).
“Gak usah pura2 deh.”
“Pura2 apa?”
“Kakak kan udah married, udah ngerti seluk-beluk onderdil cowo.”
(gw diem aja)
“Kamu kan udah SMA, pasti udah pernah keluar kan?”
“Keluar apa?” (masih ngotot jaim)
“Sperma. Yang putih2 kental, kalo keluar plong banget.”
“Oh, itu. Iya udah.”
“Kapan pertama keluar?”
“Euuuh kelas 6 SD.”
“Hmm berarti udah sering dikeluarin pasti ya. Pantesan.”
Habis bilang begitu, kakak gw balik badan. Dia nyari sesuatu di tasnya. Biarpun cuma semenit, rasanya kayak lamaaaaaaa bgt dan bikin gw grogi aja. Akhirnya dia ngeluarin lotion dari tasnya.
Habis itu dia ambil handuk kecil, ditaruh di bawah pantat gw. Tanpa banyak bicara, tangannya langsung dibaluri lotion dan tau2 tangan kirinya udah di biji, tangan kanannya udah di batang kontol.
“Kalau udah hampir keluar kasi tau, ya!”
Namanya juga udah married, ya mahir banget. Tau banget titik2 yg bisa bikin cowo kelimpungan. Gw pasrah campur grogi aja.
Namanya juga baru sekali dicoliin cewe, baru 1-2 menit juga udah mau keluar. Langsung gw kasi tau. Setelah gw kasi tau bahwa gw udah mau keluar, dia berhenti ngocokin.
Setelah ditunggu 2-3 menit, mulai dikocokin lagi. Pas ronde dua itu gw tanya,
“Kenapa harus berhenti gitu?”
“Biar maksimal.” katanya.
“Mak…simal… gi…mana?” (terbata2 karena nikmat)
“Biar keluar semua.”
“Ke…luar… semua?”
“Udah liat aja ntar.”
Begitulah seterusnya. Tiap gw bilang gw dah mau keluar, dia berhenti, istirahat 2 menit, terus lanjut lagi. Pas masuk ronde kelima, baru dia ngasi instruksi lagi.
“Badannya rileks ya. Jangan ada yg tegang. Konsentrasi ke bagian perut aja.”
Gw nggak tau deh maksudnya apa. Yang jelas petuahnya gw jalankan aja. Gw berusaha supaya badan bisa rileks. Sampai akhirnya siksaan itu berakhir. Gw keluar dengan sukses.
Crot crot crot crot crot
crot crot
crot crot
crot
crot
crot
Itu bukan sekedar sound effect, tapi emang gw nyembur sampe 12 kali. Gw itung bener, sampe 12 kali nembak dan setelah itu masih ada yg ngalir keluar. Kakak gw, dasar udah ahli, tau banget urusan kontol. Dia kocok terus sampe akhirnya gak ada lagi yg keluar. Itu pertama kalinya gw keluar sperma sebanyak itu. Kata kakak gw sih, kalau keluarin sendiri ya pasti sedikit. Soalnya pas orgasme, pasti kita berhenti kocokin. Kalau dikocokin org lain kan beda, jadi bisa terus dikocok meskipun kita udah orgasme.
Setelah bersih2, perawat datang. Biasanya kalo ada kakak gw, dia yg mandiin. Tapi waktu itu kakak gw nyuruh perawatnya mandiin gw. Setelah mandi, dia baru bilang bahwa dia cuma ngetest aja. Bener aja, karena tadi udah dikuras habis, pas dimandiin gw gak ereksi sama sekali.
Sisa waktu gw di RS gw habiskan dgn bahagia. Tiap mandi pagi gw minta dicoliin sama kakak gw (gak malu2 lagi), kadang2 malemnya juga.

MELIHAT KADAR CINTA SI DOI BERDASARKAN NAMA

  © OK3 ZON3Online ...Situs Gaul.. . Paling G4ul

Ke : HALAMAN UTAMA